Sabtu, 20 September 2014

Penari Asal Jepang Bawakan Lengger Banyumasan

Kamis, 23 September 2010 23:39 WIB | 2.962 Views
ilustrasi (ANTARA/Hasan Sakri Ghoali)
Purwokerto (ANTARA News) - Sebanyak lima penari perempuan asal Jepang yang tergabung dalam Dewandaru Dance Company Tokyo membawakan tari Lengger Banyumasan saat tampil dalam kegiatan Indonesian Friendship Culture 2010.

Penampilan lima penari dalam kegiatan yang digelar di Pendopo Sipanji Kabupaten Banyumas, di Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis malam, merupakan bagian dari tari Banjaran Lenggeran.

Dalam hal ini, tari Banjaran Lenggeran menggambarkan perjalanan penari asal Jepang untuk memelajari Lengger Banyumasan yang digambarkan melalui tarian Lengger Cilik --dibawakan anak kecil-- dari Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, tarian Lengger Lujeng, tarian Lengger Banjaran, dan diakhiri Lengger Jepang (Lengger Banyumasan, red.) yang dibawakan lima penari asal Negeri Matahari Terbit tersebut.

Kelima penari asal Jepang ini tampak lemah gemulai membawakan tarian Lengger yang diiringi musik Calung Banyumasan secara langsung.

Di bagian akhir tarian Lengger yang mereka bawakan, penari asal Jepang ini mengajak serta Bupati Banyumas Mardjoko untuk ikut serta menari.

Selain tari Lengger Banyumasan, dalam kegiatan Indonesian Friendship Culture 2010 tersebut juga menampilkan sebuah tarian kontemporer Jepang, yakni "Yume" atau mimpi.

Tarian yang mengawali pergelaran Indonesian Friendship Culture 2010 ini menggambarkan kisah pasangan muda-mudi asal Indonesia dan Jepang dalam menggapai mimpi mereka.

Tarian yang diiringi musik instrumental "Matsuri" karya Kitaro ini dimainkan oleh pimpinan Dewandaru Dance Company Tokyo, Rianto bersama istrinya Miray Kawashima.

Selain itu, dalam kegiatan ini juga ditampilkan tarian Dewi Laut "Afro Brazilian" yang dimainkan seorang penari asal Jepang yang berkolaborasi dengan sejumlah siswa sekolah di Kabupaten Banyumas.

Tarian ini menggambarkan wujud syukur terhadap Dewi Laut atas hasil panen berupa ikan.

Dalam pergelaran kesenian Jepang dan Banyumas tersebut juga diperdengarkan alunan pesinden asal Jepang, Hithomi Mastuda, yang membawakan tembang "Bawa Eling-Eling Banyumasan".

Pergelaran ini diakhiri dengan penampilan grup Tari Kendang Jepang "Hachijo-Daiko" pimpinan Shido Mizuno.

Terkait kegiatan tersebut, pimpinan Dewandaru Dance Company Tokyo Rianto mengatakan, pergelaran ini dalam rangka persahabatan dan memperkenalkan budaya Banyumas-Jepang.

"Dalam pergelaran ini, kami menampilkan tari Lengger Banyumasan yang dibawakan oleh murid-murid Dewandaru Dance Company," kata pria asal Banyumas ini.

Selain itu, dia mengatakan, untuk pertama kalinya pihaknya membawa grup "Hachijo-Daiko" ke Indonesia sehingga bisa tampil dalam kegiatan ini.

Bahkan, dia mengaku mengajak Kepala Museum Kendang Jepang, Megumi Ochi, untuk hadir dalam kegiatan Indonesian Friendship Culture 2010 ini.

Sementara itu istri Rianto, Miray Kawashima mengaku tertarik memelajari tari Lengger Banyumasan saat pertama kali bertemu dengan suaminya tahun 2001 ketika belajar di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Solo.

"Saat itu, dia sedang menari Lengger Banyumasan yang konon biasa dibawakan perempuan. Dia sangat luwes sehingga saya tertarik untuk memelajari tarian tersebut," katanya.

Bahkan, dia mengaku terpukau saat menari Lengger Banyumasan dengan iringan musik Calung secara langsung sehingga terasa berbeda jika diiringi dengan musik dari kaset.

Menurut dia, tari Lengger Banyumasan terasa lebih ceria jika dimainkan dengan iringan musik Calung secara langsung.

"Kami berencana mengajak para penari Lengger Banyumasan untuk tampil di Jepang tahun depan," katanya. (*)
(ANT/R009)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga