Depok (ANTARA News) - Universitas Indonesia mengukuhkan dua Guru Besar, yaitu Prof. Drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc., Ph.D dari Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Prof. Dr. Yahdiana Harahap, MS., dari Ilmu Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk "Formulasi Kebijakan Kesehatan : Strategi Menghadapi The Disease of Tommorow melalui Pendekatan Systematic Review dan Asta Gatra", Prof. Wiku Bakti di Balai Sidang UI Depok, Jawa Barat, Rabu, mengatakan, The Disease of Tomorrow, adalah penyakit infeksi yang sewaktu-waktu dapat muncul secara cepat.

"Akibat penyakit tersebut dapat mengakibatkan korban dan kerugian ekonomi yang besar di masyarakat," katanya.

Menurut dia, untuk menghindari terjadinya The Disease of Tomorrow, diperlukan sebuah pendekatan solusi yang menggabungkan antara pengawasan, manajemen wabah, tinjauan sistematis terhadap hasil penelitian terkait dan analisis asta gatra.

"Tinjauan sistematis dapat dilakukan dengan mereview faktor resiko The Disease of Tomorrow dari hasil berbagai penelitian multidisiplin di dunia," ujarnya.

Menurut dia, hasil tinjauan sistematis digabungkan dengan data kesehatan yang dimiliki kemudian dilakukan simulasi wabah. Simulasi ini perlu digabungkan dengan pertimbangan lingkungan strategis asta gatra dalam memformulasi kebijakan kesehatan merepson ancaman penyakit tersebut.

"Pertimbangan asta gatra penting mengingat kebhinekaan Indonesia baik dalam sosial budaya dan hayati," katanya.

Sementara itu, Yahdiana Harahap yang menyampaikan orasi ilmiahnya mengenai "Peran Bioanalisis dalam Penjaminan Kualitas Obat dan Peningkatan Kualitas Hidup Pasien" mengatakan, bioanalisis mempunyai peranan yang sangat penting dalam uji bioekivalensi dalam penjaminan mutu obat generik.

Untuk saat ini, kata dia, belum ada metode analisis standar di dalam farmakope yang bisa langsung digunakan untuk menganalisis senyawa obat atau metabolitnya dalam matriks biologi.

Menurut dia, tantangan utama pelaksanaan uji bioekivalensi adalah mengembangkan metode bioanalisis yang tepat, karena kadar obat di dalam matriks biologi sangat kecil, sehingga dibutuhkan teknis pengukuran bioanalisis yang sangat sensitif, selektif agar dapat mengukur kadar obat terkecil dalam matriks biologi secara akurat dan reliabel.

Yahdiana juga mengatakan, pelaksanaan bioanalisis di laboratorium harus menerapkan prinsip cara berlaboratorium yang baik untuk menghindari kekeliruan atau kesalahan yang mungkin timbul, sehingga menghasilkan data yang tepat, akurat, baik secara ilmiah maupun secara hukum.

"Idealnya suatu studi bioekivalensi dilakukan oleh suatu laboratorium yang sudah terakreditasi ISO/IEC 17025 untuk bidang pengujian dalam rangka memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa data yang dihasilkan akurat dan dapat dipercaya," katanya.
(T.F006/F002/P003)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2010