Rabu, 3 September 2014

Hujan Debu Merapi Guyur Cilacap

Selasa, 26 Oktober 2010 23:36 WIB | 2.162 Views
Asap solfatara disertai guguran material Gunung Merapi terlihat dari Kaliadem, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Selasa (26/10). (ANTARA/ Wahyu Putro A)
Cilacap (ANTARA News) - Hujan abu akibat letusan Gunung Merapi yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Selasa malam, mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap, Jateng.

Dari pantauan ANTARA di Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, hujan abu tersebut mulai terlihat tebal sekitar pukul 22.00 WIB setelah wilayah ini diguyur hujan dengan intensitas ringan sejak sore hari.

Dengan demikian, abu dari Gunung Merapi ini tampak melekat di dedaunan, jalanan, maupun tembok pagar rumah penduduk.

Seorang pedagang mi ayam yang mangkal di depan Sekolah Dasar Negeri 1 Kalikudi, Kasdi (36) mengatakan, sejumlah pengendara sepeda motor yang melintas di jalan tampak berhati-hati saat mengendarai kendaraannya.

"Tadi sekitar pukul 22.00 WIB, abunya terlihat sangat tebal sehingga menyulitkan pengendara sepeda motor karena mereka khawatir mata dan hidungnya kemasukan abu," katanya.

Selain itu, kata dia, jok sepeda motor salah seorang pembeli mi ayam juga tertutup abu.

Sementara itu seorang warga Desa Penggalang, Kecamatan Adipala, Wagino (39) mengaku terkejut ketika mengetahui adanya hujan abu.

"Saat keluar rumah, saya melihat dedaunan berwarna putih. Setelah saya dekati ternyata banyak terdapat abu," katanya.

Ia menduga hujan abu tersebut berasal dari Gunung Merapi yang berada sekitar 150 kilometer sebelah timur Cilacap.

"Tak mungkin hujan abu ini dari Gunung Slamet yang berada di utara Banyumas karena gunung tersebut terlihat aman-aman saja. Ini pasti dari Gunung Merapi," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan seorang warga Kelurahan Tegal Kamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan, Yoes Sachri (50) melalui pesan singkat yang diterima ANTARA.

"Abu Merapi sampai Kota Cilacap, cukup tebal di lantai," kata dia dalam pesan singkatnya. (SMT/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2010

Komentar Pembaca
Baca Juga