Jakarta (ANTARA News) - Pengamat ekonomi, Agustinus Prasetyantoko, mengatakan peningkatan daya saing RI pada 2010 menurut Global Competitivenes Index (GCI) menjadi peringkat ke-44 dari peringkat ke-54 pada 2009 rentan kembali turun karena hanya didukung stabilitas makro semata.

"Meski ada perbaikan ranking daya saing Indonesia pada 2010, sifatnya hanya temporer," kata pengamat ekonomi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, dalam Seminar Ekonomi yang diselenggarakan LKBN ANTARA di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, daya saing Indonesia potensial untuk kembali anjlok pada tahun-tahun mendatang karena peningkatan yang terjadi pada tahun ini hanya disangga oleh kestabilan kondisi makro semata.

Ia menambahkan, jika diteliti lebih lanjut, peningkatan daya saing RI memang hanya didorong oleh stabilitas makro sementara faktor pendukung lain nyaris tidak ada yang berubah.

"Kalau dilihat lebih lanjut dari sisi infrastruktur dan supporting system yang lain di Indonesia tidak ada yang berubah signifikan," kata Prasetyantoko.

Oleh karena itu, ia berpendapat Pemerintahnya seharusnya mendesain kebijakan yang konsisten dan solid untuk mewujudkan potensi besar Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia.

Terlebih, ia memproyeksikan, dalam jangka menengah ke depan situasi perekonomian global masih dipenuhi suasana ketidakpastian.

Peringkat daya saing Indonesia dalam Global Competitivenes Index (GCI) 2010 telah mengalami kenaikan substansial, yakni menempati peringkat ke-44 pada tahun 2010 ini dari peringkat ke-54 pada tahun 2009.

Kenaikan peringkat daya saing Indonesia terutama disebabkan oleh meningkatnya peringkat pada indikator makro ekonomi (dari peringkat 52 menjadi 34), kesehatan dan pendidikan dasar (dari 82 menjadi 62), quality of overall infrastructure (dari 96 menjadi 90), intellectual property protection (dari 67 menjadi 58), national savings rate (dari 40 menjadi 16), effectiveness of anti-monopoly policy (dari 35 menjadi 30), dan extent and effect of taxation (dari 22 menjadi 17).

Beberapa indikator pada pilar kepuasan bisnis (business sophistication) juga meningkat, yaitu local supplier quantity (dari 50 menjadi 43), value chain breadth (dari 35 menjadi 26), control of international distribution (dari 39 menjadi 33), dan production process sophistication (dari 60 menjadi 52).

Indonesia mengungguli peringkat daya saing Portugal (46), Italia (48), India (51), Afrika Selatan (54), Brazil (58), Turki (61), Rusia (63), Mexico (66), Mesir (81), Yunani (83), dan Argentina (87). Di antara negara anggota ASEAN, Indonesia berada pada urutan ke-5 setelah Singapura (3), Malaysia (26), Brunei (28), Thailand (38), dan berada di atas peringkat Vietnam (59), Filipina (85), dan Kamboja (109).
(H016/B010)