Minggu, 26 Oktober 2014

Bentrok di Jambi, Enam Warga Tertembak Polisi

| 2.299 Views
id bentrok jambi,sengketa sawit,brimob,perkebunan sawit,sinar mas
Jambi (ANTARA News) - Enam warga Desa Karang Mendapo, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Jambi, Sabtu, tertembak senjata api puluhan anggota Brimob menyusul  konflik lahan antara petani melawan PT Kresna Duta Agroindo (KDA), anak perusahaan Sinar Mas Group.

Wartawan ANTARA di Jambi melaporkan penembakan tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 WIB saat 150 petani Karang Mendapo sedang panen buah sawit di lahan plasma milik desa.

Dalam aksi tersebut, enam warga menjadi korban tembakan anggota Brimob ketika sedang bertugas di perusahaan kelapa sawit tersebut.

Setelah dirawat di rumah sakit umum setempat, keenam korban langsung dibawa ke RSU Raden Mattaher Jambi guna mendapatkan perawatan lebih intensif.

Keenam orang yang mengalami luka serius itu adalah Nur alias Ujang, Mawir, Saiful, Agus, Fahmi, dan Suhendri.

Kini, mereka masih dirawat intensif di RSU Raden Mattaher Jambi setelah menempuh lima jam perjalanan dari Kabupaten Sarolangun ke Kota Jambi.

Setiba di RSU Raden Mattaher Jambi, sekitar pukul 16.30 WIB, salah satu korban yang terkena tembakan di pinggang dan tangan, Nur alias Ujang (34), mengatakan, mereka tiba-tiba diserang Brimob saat sibuk memanen sawit.

"Pagi itu, kami yang berjumlah sekitar 150 orang petani sedang mengambil panen buah kelapa sawit di lahan plasma milik desa, maka saat itu juga anggota polisi langsung mengejar dan menembaki warga," kata Nur.

Melihat polisi bersenjata api, warga tidak bisa melawan dan berhamburan berlari menyelamatkan diri hingga ada korban yang terkena tembakan saat kejadian itu.

Hasil pantauan di RSU Raden Mattaher Jambi, keenam korban akibat tembakan polisi tersebut langsung diturunkan dari mobil untuk dilarikan ke ruangan IGD rumah sakit.

Seorang dari enam korban yang terkena tembakan tersebut, Mawir, mengalami luka tembak di bagian pipi kiri yang cukup serius hingga tidak bisa bergerak saat diturunkan dari mobil ambulans RSU Sarolangun.

Lima orang lainnya yakni Nur, Saiful, Agus, Fahmi dan Suhendri mengalami luka tembak pada bagian kaki, pinggang, dan pantat serta bagian rusuk, namun kondisinya tidak terlalu parah seperti Mawir.

Kelimanya diinfus, kecuali Nur yang lukanya sudah dijahit saat dirawat di Sarolangun.

Sementara itu, Kepala Desa Karang Mendapo, M Rusdi, saat mendampingi korban masuk ke IGD Raden Mattaher Jambi mengatakan, warganya ditembaki Brimob yang berpakaian seragam lengkap dengan senjatanya.

Permasalahan tersebut, dipicu oleh konflik lahan sejak 2008 antara petani setempat dengan PT KDA, perusahaan bergerak bidang perkebunan kelapa sawit milik Sinar Mas Group yang beroperasi di Desa Karang Mendapo, Kecamatan Pauh Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Setelah adanya konflik yang terjadi antara perusahaan dengan petani, warga atau pun petani sawit di Karang Mendapo sering mendapatkan intimidasi dari petugas pengamanan Brimob di sana.

"Memang benar kami, khsusnya warga, sering mendapatkan tekanan dan intimidasi dari perusahaan melalui polisi yang berjaga dan bertugas di lahan PT KDA, namun puncaknya adalah pada peristiwa tertembaknya enam orang oleh Brimob," kata Rusdi.

Awalnya, masyarakat Desa Karang Mendapo memiliki lahan seluas 1.020 hektare, kemudian ditanami oPT KDA untuk bermitra, namun sampai saat ini hanya ada 400 hektare lahan yang diberikan perusahaan kepada warga, sedangkan sisanya sampai saat ini belum juga diselesaikan.

Selama ini, masyarakat ataupun petani setempat tidak pernah menjarah lahan kebun kelapa sawit milik PT KDA, sedangkan petani hanya melakukan panen di lahan plasma milik desa.

Sebaliknya, Kabag Ops Polres Sarolangun, Kompol Aritonang, mengatakan, sebelum kejadian anggota Brimob di lapangan sudah memberi tembakan peringatan ke udara.

Melihat situasi yang tidak kondusif membuat anggota Brimob di lapangan terpaksa mengeluarkan tembakan dengan menggunakan peluru karet hingga mengenai beberapa warga.

Polres Sarolangun ksedang berada di lapangan untuk mengecek kebenaran kejadian tersebut.(*)

N009/E011/AR09

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar Pembaca
Baca Juga