Kairo (ANTARA News) - Anak-anak, wanita, pria tua-muda turun ke jalan di ibukota Kairo dan kota-kota seantero Mesir untuk merayakan mundurnya Presiden Honsi Mubarak, Jumat malam (11/2).

Hingga Sabtu pagi warga meneriakkan "Allahu Akbar dan kata-kata kemenangan seperti "shah yaa Misr" yang berarti "Hidup Mesir".

Semua kendaraan menyembunyikan klakson sebagai tanda luapan kegembiraan.

Jalanan didominasi anak-anak muda berkendara mobil terbuka, merayakan kemenangan itu sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf "V", simbol victory atau kemenangan.

Seorang pemuda menangis sambil memegang sebuah foto pria muda.

"Ini anak paman saya, ia meninggal tertembak polisi brengsek. Kau adalah pahlawan, mengorbankan jiwamu demi demokrasi dan kejayaan bangsamu," ujarnya pilu sembari mencium foto tersebut di bawah linangan air mata.

Seorang wanita setengah baya menggendong bayinya yang baru berusia tiga pekan.

"Saya sengaja membawa bayi saya ke jalan untuk bergembira bersama seluruh rakyat. Ia adalah saksi sejarah meskipun usianya belum menginjak satu bulan," tuturnya.

Para tentara yang mengerahkan tank-tank tempur juga menyambut kemenangan rakyat itu.

Banyak pemuda naik ke atas tank-tank tersebut dan mengangkat tangan para tentara sebagai tanda kemenangan.

Selama tiga pekan belakangan, tank-tank tempur bersiaga di sekitar Lapangan Tahrir yang menjadi konsentrasi unjuk rasa anti-Mubarak.

Tentara mengambilalih keamanan dari polisi yang menghilang di Kairo akibat dikalahkan jutaan pengunjukrasa pada 28 Januari yang dinamai "Jumatul Ghadhab (Revolusi Jumat).

Hingga tulisan ini diturunkan Sabtu petang, luapan massa terus berlangsung, diiringi nyanyian gembira yang didominasi lagu nasional "Biladi, Biladi ...." (Negeriku, negeriku..).

Mohamed Fathi, pria berusia 86 tahun atau empat tahun lebih tua dari Hosni Mubarak, menyamakan gempitnya suasana pengunduran Mubarak ini dengan dengan suasan yang mengiringi tumbangnya Raja Mesir, Farouk, 61 tahun silam.

"Suasana malam ini mengingatkan saya pada Revolusi 23 Juli 1952," ujar Fathi yang dikerumuni beberapa wartawan.

Hari keramat

"Hari Jumat ini merupakan hari keramat Mesir serupa dengan Hari Revolusi 23 Juli 1952," kata Omar Sharif, bintang film kesohor Mesir.

Tanggal 23 Juli amat bermakna bagi bangsa Mesir, serupa dengan 17 Agustus di Indonesia yang setiap tahun diperingati sebagai tonggak sejarah negara modern dan berdaulat.

Berbeda dari Indonesia yang "hari keramat"-nya diadopsi dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Mesir menetapkan "hari keramat"-nya pada Revolusi 23 Juli 1952, yakni peralihan dari kerajaan menjadi republik.

Mesir sendiri memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 28 Januari 1922, namun tanggal itu tidak pernah diperingati rakyat Mesir.

Kedutaan Besar Mesir di Jakarta secara khusus merayakan 23 Juli itu dengan menggelar resepsi diplomatik di kantor perwakilannya di Jalan Teuku Umar setiap tahun. Biasanya yang hadir adalah kalangan pejabat Indonesia, pengusaha, budayawan dan wartawan serta para duta besar negara sahabat Mesir.

Dalam bukunya "Al_Tsaurah Al-Masriyah (Revolusi Mesir)", sejarawan Mesir Prof. Dr. Fahmi Sobhy mengisahkan bahwa Revolusi 1952 itu diawali dari kudeta tak berdarah yang diprakarsai beberapa perwira muda Angkatan Darat pimpinan Letnan Kolonel Gamal Abdel Nasser.

Nasser dan rekan-rekannya dari kalangan perwira muda yang menamakan diri "Gerakan Perwira Bebas" itu berupaya menumbangkan Raja Farouk dan menghapus konstitusi monarki.

Keberhasilan revolusi Mesir menginspirasi sejumlah negara Asia dan Afrika untuk menumbangkan apa yang disebut sebagai "rezim korup".

Revolusi Mesir juga mengilhami negara tetangganya, Libya, yang dikomandoi Kolonel Muammar Gaddafi dan rekan-rekannya, para perwira muda, untuk menumbangkan Raja Idris pada 1969.

Gaddafi, yang hingga kini masih bangga dengan pangkat kolonelnya, mengawali gerakan dengan membentuk Dewan Komando Revolusi, lalu berhasil melancarkan kudeta tak berdarah.

Revolusi 1952 yang mendapat dukungan rakyat itu bertumpu pada tiga alasan ketidakpuasan.

Pertama, ketidakpuasan atas berdirinya negara Israel di tanah Palestina pada 1948, Raja Faruk dinilai terlalu lemah dalam mempertahankan negara Palestina.

Kedua, penguasa Monarki dinilai melakukan korupsi dan terlalu pro-Inggris, bekas penjajah Mesir dan Palestina, yang dikenal salah satu penyokong berdirinya negara Zionis Israel.

Ketiga, ketidakpuasan publik atas menjalarnya korupsi dan penyelewengan kekuasaan yang merata di hampir semua lembaga pemerintahan.

Kemarahan rakyat kian memuncak ketika pasukan Inggris menyerang barak-barak polisi di kota Ismailiah pada 25 Januari 1952 sehingga menewaskan 50 perwira polisi dan melukai ratusan personel.

Hari berikutnya, 26 Januari yang juga disebut As-Sabt Al-Aswad (Sabtu Hitam), rakyat turun ke jalan-jalan di Kairo dan sejumlah kota lain.

Kata-kata "revolusi kedua" dikumandangkan para demontran yang mengingatkan revolusi pertama Mesir pada musim semi 1919.  Revolusi ini diprakarsai Saad Zaghlul, pemimpin gerakan nasionalis yang kala itu dikucilkan Inggris di Malta.

Revolusi pertama tersebut berhasil mengusir penjajah Inggris dan negara Mesir yang berdaulat pun diproklamasikan pada 22 Januari 1922.

Kendati sudah merdeka, pengaruh Inggris tetap kukuh sehingga Mesir tak ubahnya negara boneka karena Inggris bersama Prancis terus bercokol di Terusan Suez.

Sabtu Hitam itu membuat Kairo seperti lautan api. Massa yang tak terkendali menyerang kepentingan-kepentingan asing seperti hotel, kantor penerbangan, bioskop, dan klub malam.

Serba panik

Raja Farouk luar biasa panik. Dia kehilangan kepercayaan rakyat sehingga pikirannya benar-benar buntu. Kabinet pun gonta-gantinya dirombak.

Hanya dalam jangka waktu enam bulan menjelang revolusi, Raja Faruk empat kali membentuk pemerintah baru. Mula-mula membubarkan pemerintah pimpinan PM Mustafa En-Nahhas dan mengangkat PM Ali Maher pada 27 Januari-1 Maret 1952.

Berikutnya, PM Ahmed Naguib El-Hilali (2 Maret-29 Juni 1952), lalu PM Hussein Sirri (2-20 Juli 1952), dan sehari menjelang revolusi, Ahmed Naguib El-Hilali diangkat kembali sebagai PM (22 Juli 1952).

Kepanikan serupa itu juga meliputi hati Hosni Mubarak 59 tahun kemudian. Sejak demonstrasi akbar 28 Januari, kebijakan Presiden Mubarak berubah begitu cepat.

Mula-mula ia membubarkan kabinet pimpinan Perdana Menteri Ahmed Nazif untuk digantikannya dengan kabinet PM Ahmed Shafiq dan mengangkat Wakil Presiden Omar Suleiman.

Mubarak semakin panik, kali ini yang diganti adalah Sekretaris Jenderal partai berkuasa, Partai Demokrat Nasional (NDP). Namun rakyat bergeming.

Lalu, pengalihan kekuasaan dari Mubarak ke Wapres Suleiman, juga bagai gayung tak bersambut.

Akhirnya Mubarak mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada Dewan Tertinggi Militer pimpinan Menteri Pertahanan Marsekal Mohamed Hussein Tantawi. (*)

M043/H-AK