Jumat, 31 Oktober 2014

Indonesianis: "Kesantaian" Beragama Mulai Pudar

| 2.813 Views
id kesantaian beragama, indonesianis, friedrich nietzsche
Borobudur, Jawa Tengah (ANTARA News) - Indonesianis asal Jerman, Berthold Damshauser, mengemukakan, "kesantaian" masyarakat terutama Jawa dalam hidup beragama mulai pudar sehingga sering muncul keinginan sebagian orang untuk memaksakan suatu kebenaran kepada orang lain.

"Masa sekarang ada kerisauan dan keprihatinan karena kesantaian itu mulai pudar, padahal budaya Jawa memiliki sikap menyimpan nilai positif," katanya saat diskusi dan pembacaan puisi bersama "Syahwat Keabadian: Kumpulan Puisi Friedrich Nietzsche" di Borobudur, Sabtu.

Pada kegiatan yang berlangsung di Rumah Baca Dunia Tera kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah itu, ia mengatakan, sekitar 30 tahun lalu dijumpai beragam pemeluk agama yang hidup dengan semangat kekeluargaan.

Mereka, katanya, secara santai membina hubungan antarkerabat. Berthold yang sejak 1986 mengajar di Universitas Bonn, Jerman itu, mengemukakan, perlunya suasana "kesantaian" dalam kehidupan beragama di masyarakat itu tetap dilestarikan.

"Lestarikan sikap `kesantaian` dalam beragama, cari kebenaran secara santai sehingga tidak mudah menyebut kafir terkait dengan suatu perbedaan," katanya.

Pada kesempatan itu ia menyebutkan salah satu pemikiran Nietzsche tentang suatu kebenaran.

"Tidak ada kepastian dan tidak ada kebenaran mutlak. Nietzsche mengajak manusia bertindak dan harapan meraih prestasi tertinggi khususnya di bidang budaya dan estetika. Manusia yang berkarya seni,"katanya.

Berthold yang menerjemahkan karya puisi Nietzsche dari bahasa Jerman ke Indonesia berjudul "Syahwat Keabadian: Kumpulan Puisi Friedrich Nietzsche" itu, mengemukakan, orang yang merasa memiliki kebenaran mutlak sering kali kurang toleran terhadap orang lain.

Ia menyebutkan persoalan terkait dengan dampak sikap orang yang merasa memiliki kebenaran mutlak seperti kasus Ahmadiyah dan perusakan tempat ibadah di Temanggung belum lama ini.

"Manusia yang terlalu amat yakin bahwa dia sendiri memiliki kebenaran, bisa menimbulkan banyak malapetaka," katanya.

Peristiwa serupa, katanya, terjadi pada masa lalu terkait dengan Perang Salib.

Ia menyatakan pentingnya gagasan Nietzsche yang patut direnungkan bukan saja oleh orang Indoensia saat ini melainkan manusia di manapun yakni menyangkut tentang kesangsiannya terhadap kebenaran mutlak.

"Barangkali ini berharga dalam suatu zaman yang semakin diwarnai oleh kedangkalan ide tentang dikotomi-dikotomi dan pertentangan antarbudaya dan antaragama yang mengarah kepada kekerasan," katanya.

Pada kesempatan itu Bertold bersama penyair Magelang, Dorothe Rosa Herliany, dan penyair Solo, Sosiawan Leak membacakan sejumlah puisi karya Nietsche. (M029/S019/K004)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar Pembaca