PBB (ANTARA News/AFP) - Dewan Keamanan PBB Senin berselisih soal permintaan dari Inggris dan Prancis mengenai zona larangan terbang di Libya sementara Rusia bersikeras "masalah fundamental" masih belum terpecahkan dalam usul itu.

Utusan Eropa dan Arab menekankan perlunya tindakan mendesak PBB terhadap serangan Muamar Gaddafi terhadap pasukan oposisi yang mendapatkan wilayah baru setiap hari.

Tapi, karena perselisihan antara negara-negara besar itu, Dewan Keamanan akan membutuhkan beberapa hari untuk menyetujui tindakan baru, kata beberapa diplomat.

Dewan Keamanan mengadakan pembicaraan mengenai zona eksklusif ketika topik itu juga mendominasi pembicaraan antara para menteri luar negeri negara-negara Kelompok Delapan di Paris.

Inggris dan Prancis sedang menyusun rancangan resolusi zona larangan terbang itu dan upaya mereka telah didorong oleh dukungan Liga Arab. Rusia dan China memimpin penentangan, sementara Amerika Serikan, Jerman dan yang lain ragu-ragu.

Utusan Rusia untuk PBB Vitaly Churkin menyatakan masalah penting mengenai bagaimana zona itu akan dijalankan dan siapa yang akan bertanggungjawab belum dijawab oleh para pendukung usul itu.

"Sejauh kami perhatikan, ada beberapa masalah fundamental yang perlu dijawab," kata Churkin pada wartawan ketika ia meninggalkan pembicaraan Dewan Keamanan itu.

"Jika ada zona larangan terbang, siapa yang akan melaksanakan zona larangan terbang itu?, bagaimana zona larangan terbang itu akan dilaksakan", ia bertanya.

"Kami belum mendapatkan cukup informasi, Untuk mengatakan `kita perlu bertindak dengan cepat`, `secepat mungkin`, tapi tidak memberikan jawaban mendasar pada masalah fundamental itu, pada kita yang tidak benar-benar membantu. Itu hanya memukul air."

Churkin menambahkan bahwa Rusia "berpandangan terbuka" mengenai zona larangan terbang dan usul lainnya untuk mengakhiri kekerasan di Libya.

Tapi Duta Besar Prancis Gerard Araud mengatakan resolusi mengenai zona eksklusif masih mungkin pekan ini.

"Tidak ada penolakan sepenuhnya. Ada kekhawatiran, ada pertanyaan, tapi saya kira kita akan bergerak maju," tutur Araud pada wartawan.

"Saya pikir masalahnya pada kita adalah kemendesakan. Seperti anda tahu pasukan Gaddafi bergerak maju sehingga kita akan lebih suka untuk bertindak secepat mungkin," katanya.

Araud menunjuk ke Dewan Keamanan PBB yang membolehkan zona laranan terbang di atas Bosnia dalam perang Balkan 1990-an tanpa menetapkan siapa yang akan menjalankanya atau bagaimana. Utusan Prancis itu menyatalam dewan hanya harus memberi "otoritas politik".

"Saya kira kami akan bekerja siang ini dan berusaha untuk mendapatkan naskah secepat mungkin," ia menambahkan. "Kami akan memiliki wewenang penuh. Setelah itu negara-negara yang ingin menjadi bagian dari koalisi itu akan datang."

Lebanon, negara Arab di dewan yang memiliki 15 negara anggota itu, yang minta pertemuan Senin, juga menekankan faktor waktu itu.

"Saya relatif pesimistis mengenai situasi di wilayah itu," kata utusan Lebanon Nawaf Salam, yang mengatakan Dewan Keamanan harus menanggapi "situasi mendesak itu".

Dewan Keamanan telah memerintahkan larangan perjalanan dan pembekuan aset terhadap Gaddafi dan sejumlah anggota rezimnya pada 26 Februari lalu. Dewan juga memerintahkan embargo senjata terhadapnya dan penyelidikan kejahatan terhadap kemanusiaan atas tindakan keras pemimpin Libya itu pada oposisi pemberontak.

Jerman juga menyampaikan keraguannya mengenai zona larangan terbang itu. "Masalah-masalah muncul dan beberapa dari masalah itu belum terjawab," kata utusan Jerman Peter Wittig yang meminta tekanan lagi diberikan pada Gaddafi melalui sanksi politik dan ekonomi. (S008/C003/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011