Negara (ANTARA News) - Balai Riset dan Observasi Kelautan (Seacorm) di Desa Perancak, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, pada Senin terbakar, dan diperkirakan mengakibatkan kerugian hingga puluhan miliar rupiah.

Balai yang diresmikan 3 Mei 2007 itu memiliki kemampuan untuk pemetaan wilayah tangkap ikan se-Asia Tenggara, dan terbakar pada bagian gedung utama mulai sekira pukul 03.00 Wita.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis Seacorm Jembrana, Bambang Sukresno, mengatakan bahwa di gedung utama itu tersimpan seluruh peralatan vital dan sekaligus sebagai pusat kegiatan seluruh pegawai.

Selain ruang kepala kantor, peralatan canggih yang berada di gedung tersebut antara lain dua unit stasiun bumi, 40 unit komputer dan satu unit server.

"Harga satu unit satelit bumi saja sudah lima miliar rupiah, jadi saya perkirakan kerugian akibat kebakaran ini hingga puluhan miliar rupiah," katanya.

Kebakaran hebat itu pertama kali diketahui oleh Ketut Mudiasa dan Komang Darwaman, petugas satuan pengamanan setempat yang tengah piket.

Sekitar pukul 03.00 Wita, kedua satpam itu bermaksud menyalakan meteran listrik.

Saat melintas di gedung utama mereka mendengar ledakan kecil dan berusaha mengeceknya.

Dua orang satpam itu mengaku melihat nyala api di salah satu komputer, sehingga mereka bergegas mengambil alat pemadam kebakaran.

Namun saat kembali, ruang tempat komputer itu sudah dipenuhi kobaran api besar dan asap memenuhi ruangan.

"Dua orang satpam kami itu lantas lari menyelamatkan diri keluar gedung," ujar Bambang.

Tindakan pertama dilakukan oleh Mudiasa dengan mematikan aliran listrik yang menuju gedung utama, dilanjutkan dengan membangunkan beberapa pegawai yang ada di lokasi untuk minta pertolongan.

Bambang yang mengaku tiba di lokasi sekitar pukul 03.20 Wita, segera menghubungi petugas pemadam kebakaran Pemkab Jembrana dan pihak PLN.

Pukul 03.25 Wita, kobaran api sudah merembet sampai ke atap gedung dan terdengar ledakan keras dari dalam.

Petugas pemadam kebakaran yang tiba sekitar pukul 03.45 Wita, harus bekerja keras untuk memadamkan kobaran api yang telah merembet ke bangunan seputarnya.

Setelah berusaha keras, baru sekitar pukul 06.45 Wita kobaran api berhasil dipadamkan.

Akibat kebakaran tersebut, menurut Bambang, kantor balai tersebut sementara tidak bisa melayani pemetaan lokasi tangkap ikan dari kapal-kapal di lautan.

"Kami tidak bisa prediksi kapan balai ini bisa beroperasi lagi, yang jelas pemetaan lokasi tangkap ikan sementara terhenti total," ujarnya.

Bambang mengatakan, selama ini cukup banyak awak kapal yang mengakses pemetaan ikan yang dilakukan balai tersebut.

"Tiap bulannya awak dari ribuan kapal mengakses pemetaan lokasi ikan yang kami lakukan," jelasnya.

Menurut Bambang, sudah sekitar seminggu terakhir voltase listrik di gedung utama balai tersebut naik-turun atau tidak stabil.

"Lampunya kadang terang kadang redup. Hal itu sudah pernah kami laporkan ke PLN," katanya.

Terkait kejadian itu, Bambang mengaku, pihaknya sudah melaporkan ke Kementrian Kelautan Dan Perikanan, dan pihak pemerintah pusat tersebut memerintahkan untuk segera menghitung kerugiannya.

Kepala Bagian Operasi Kepolisian Resor Jembrana, Kompol Nyoman Wirya Sucipta, yang ditemui di lokasi mengatakan, untuk menyelidiki penyebab kebakaran itu, pihaknya akan minta bantuan tim laboratorium forensik Kepolisian Daerah Bali.

"Untuk sementara ini kami hanya melakukan olah TKP, untuk lebih detailnya tim labfor yang akan bekerja," katanya. (*)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2011