Tripoli (ANTARA News/AFP) - Kementerian Luar Negeri Libya, memperingatkan bahwa setiap intervensi asing dengan dalih membawa bantuan ke pelabuhan yang dikuasi pemberontak di Misrata akan berhadapan dengan perlawanan bersenjata.

"Setiap usaha untuk mendekati wilayah Libya di bawah dalih sebuah misi kemanusiaan akan berhadapan dengan perlawanan bersenjata," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh kantor berita resmi JANA.

"Satu juta warga Libya yang telah bersenjata sejak awal pertempuran, agresi kolonialis, siap membela Libya dan membela Misrata.

"Libya hanya akan menerima bantuan kemanusiaan dari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah," kata kementerian itu, seraya menambahkan bahwa pihaknya telah memberitahu Dewan Keamanan PBB, Uni Eropa dan Uni Afrika tentang posisinya.

Para diplomat di Brussel, Jumat, mengatakan bahwa Uni Eropa bersiap-siap untuk menggunakan aset militer untuk melakukan misi kemanusiaan guna mengevakuasi yang terluka dari Misrata dan mengantarkan makanan, air dan obat-obatan ke kota itu.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengirimkan surat kepada Sekretaris Jenderal Ban Ki-moon mengatakan bahwa blok 27 negara tersebut sudah siap untuk datang dan membawa bantuan ke Misrata dan untuk memobilisasi dengan segala cara, kata para diplomat.

Para pemberontak di Misrata dikepung oleh pasukan pemerintah Libya dan telah menjadi lokasi pengeboman berat selama lebih dari sebulan.

Sebelumnya pada Senin Badan PBB untuk Anak-Anak UNICEF menuntut menghentikan pengepungan di Misrata, seraya peringatkan bahwa anak-anak kecil berusia sembilan bulan sekarat akibat penembakan.

Dan pada Minggu Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyatakan

kekhawatiran tentang beberapa ribu pendatang asing yang terdampar di tempat terbuka di Misrata.(*)
(Uu.G003/H-AK)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011