Kamis, 27 Juli 2017

Kemendiknas dan Microsoft Kerjasama

| 13.145 Views
Kemendiknas dan Microsoft Kerjasama
Muhammad Nuh (ANTARA/Kharis Kustiawan)
Jakarta (ANTARA News) - Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional 2011, Microsoft Indonesia menandatangani perjanjian kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) untuk bersama-sama memperkuat pengetahuan teknologi informasi di dunia pendidikan, serta meningkatkan inovasi dan kreativitas.

Dalam siaran persnya Senin, Microsoft mengungkapkan bahwa nota kesepahaman itu ditandatangani oleh Mendiknas Mohammad Nuhdan Direktur Utama Microsoft Indonesia, Sutanto Hartono, Senin (2/5) siang di Kantor Kemdiknas, dalam acara resepsi Hardiknas.

Mendiknas Mohammad Nuh mengatakan, melalui peningkatan pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kedepan sumber daya manusia Indonesia dapat mendukung penguatan daya saing Indonesia.

“Tentu bukan hanya itu saja, melalui TIK inilah diharapkan upaya untuk merealisasikan tercapainya misi Kemdiknas bisa segera terwujud. Kami sadar TIK merupakan bagian yang tidak terpisahkan untuk mencapai tujuan pendidikan,” kata Mohammad Nuh.

Itulah sebabnya, kata Nuh menjelaskan, TIK menjadi salah satu dari tiga pilar yang dikembangkan Kemdiknas dalam rangka menjalankan efisiensi dan efektivitas program kementerian selain berbagi sumber daya dan integrasi proses.

“Melalui kerjasama inilah harapannya ke depan pemanfaatan TIK bukan hanya bagi lingkungan kementerian, tapi juga bisa dikembangkan pada tingkat satuan pendidikan,” katanya.

Sementara pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Microsoft Indonesia, Sutanto mengatakan, Microsoft memiliki visi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang inovatif dan berbasis ilmu pengetahuan.

Bersama-sama dengan pemerintah, dalam hal ini Kemdiknas, kami percaya bahwa dengan public private partnership yang  positif, akan dapat menjadi dunia pendidikan unggul dan berdaya saing tinggi. Microsoft bertekad untuk menjadi mitra ekosistem yang terus bertumbuh, bersama-sama dengan para stakeholders, termasuk pemerintah,” katanya.

Ruang lingkup MoU antara Kemdiknas dan Microsoft Indonesia, antara lain dalam bidang peningkatan mutu pendidikan  dan pencapaian reformasi layanan pendidikan yang bertumpu pada pengetahuan dan pemanfaatan TIK.

Bentuk kerjasama yang dilakukan antara lain; Microsoft Partners in Learning (PIL), sebuah inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan metode pengajaran para guru, di bawah bendera program “Guru Inovatif”.

Sutanto berharap, melalui program ini, Microsoft akan dapat memberikan bimbingan kepada para guru di sejumlah sekolah, yang akan dijadikan contoh sebagai institusi pendidikan dan tenaga pengajar yang siap menggunakan metode belajar-mengajar abad 21.

Selain itu, Sutanto menambahkan, MoU ini dapat digunakan sebagai sarana untuk membuka saluran komunikasi dan pertukaran informasi yang lebih luas di dunia pendidikan. Microsoft menyediakan layanan email secara cuma-cuma melalui program Microsoft Live@Edu yang memungkinkan baik pendidik (guru), tenaga kependidikan, dan peserta didik dapat berinteraksi dan berbagi informasi.

Selain itu ada beberapa paket piranti lunak, pengembang dan desainer sistem yang diberikan Microsoft kepada sekolah-sekolah di Indonesia yang diberikan tanpa biaya melalui Microsoft Dreamspark. Siswa dapat mengunduh piranti lunak profesional yang membantu proses akademik mereka dan akhirnya mendukung karir di masa mendatang.

Berdasarkan data dari Kemdiknas, saat ini di Indonesia terdapat sebanyak sekitar 165.000 buah sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas, dan sebanyak 4.500 buah universitas yang tersebar di seluruh di Indonesia. Total jumlah siswa di seluruh Indonesia mencapai 45 juta orang.

“Berdasarkan pada fakta-fakta itulah Microsoft berkomitmen untuk terus mendukung dunia pendidikan Indonesia dalam menyongsong era pendidikan digital abad 21,” lanjut Sutanto.
    
Melalui bendera Microsoft Education, katanya menambahkan, Microsoft mendukung  pertumbuhan inovasi teknologi yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan industri kreatif, dimana semua berangkat dari dunia pendidikan.

(Yud/S026)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar Pembaca