Yogyakarta (ANTARA News) - Hasil pemikiran Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim perlu selalu menjadi perhatian dan kajian, kata pengamat sosial keagamaan dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta Akhmad Minhaji.

"Hal itu perlu dilakukan karena negara dan bangsa ini tidak akan pernah lepas dari jasa Kiai Haji (KH) Abdul Wahid Hasyim," katanya pada peluncuran dan bedah buku "KHA Wahid Hasyim: Sejarah, Pemikiran, dan Baktinya bagi Agama dan Bangsa" di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, nama Wahid Hasyim bisa saja tenggelam di antara nama Abdurrahman Wahid dan Hasyim Asy`ari, tetapi hasil pemikirannya bak mutiara tersembunyi yang selalu siap menyelesaikan permasalahan umat, bangsa, dan negara.

"Hasil pemikiran mantan Menteri Agama itu dituangkan dalam beberapa bidang, di antaranya mengenai hukum Islam, pendidikan Islam, pesantren dan modernitas, tasawuf, keagamaan, politik, dan psikologi," katanya.

Ia mengatakan, sebagai orang yang dilahirkan dan dibesarkan dalam tradisi pesantren, hal itu ikut membentuk karakter Wahid Hasyim sebagai seorang pendidik. Mantan Ketua Umum Pengurus Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga dikenal sebagai pembaru dalam dunia pendidikan Islam.

"Kesadaran yang muncul dari Wahid Hasyim pada saat negara baru merdeka merupakan suatu nilai tersendiri begitu tinggi perhatiannya pada dunia pendidikan," kata Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga itu.

Menurut dia, hadirnya beberapa artikel dalam buku itu semakin memperkaya tulisan yang sudah ada sekaligus memiliki momentum yang tepat, yakni sebagai terapi di saat bangsa ini sedang menghadapi beberapa permasalahan.

Permasalahan itu di antaranya pelayanan publik yang buruk, korupsi dan kriminalitas yang meluas, populasi tidak terkendali, tidak menentunya ekonomi, kualitas pendidikan semakin menurun, dan meningkatnya kekerasan.

"Buku itu sangat bermanfaat bagi kalangan akademisi dan masyarakat secara luas. Kajian yang diangkat sangat ilmiah dan memberikan pokok pikiran baru tentang siapa Wahid Hasyim dan semua yang diajarkannya tidak lekang oleh zaman," katanya.(*)

(L.B015*H010/H008)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011