Sabtu, 1 November 2014

Pidato Presiden Saat Peringatan Hari Lahir Pancasila

| 13.956 Views
id pancasila, hari lahir pancasila, presiden yudhoyono
Pidato Presiden Saat Peringatan Hari Lahir Pancasila
Presiden Suslilo Bambang Yudhoyono (kiri) disambut Ketua MPR RI Taufik Kiemas (kanan) ketika menghadiri peringatan Hari Kelahiran Pancasila, di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (1/6) (ANTARA/Yudhi Mahatma)
Jakarta (ANTARA News) - Berikut adalah pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Gedung Nusantara IV MPR/DPR/DPD di Jakarta, 1 Juni 2011.

Assalamualaikum wr wb
Salam sejahtera untuk kita semua

Yang saya hormati Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden RI ketiga
Yang saya hormati Ibu Megawati Soekarnoputri Presiden Indonesia kelima
Yang saya hormati Bapak Taufiq Kiemas Ketua MPR RI beserta para pimpinan lembaga-lembaga negara dan segenap anggota MPR RI, DPR RI, dan DPD RI
Yang saya hormati saudara wakil presiden RI beserta para menteri dan anggota KIB II
Yang saya hormati bapak Try Soetrisno, Bapak Hamzah Haz dan Bapak Mohammad Jusuf Kalla
Yang saya hormati Ibu Sinta Nuriah Abdurrahman Wahid dan Ibu Karlina Wirahadi Kusuma beserta para tokoh-tokoh nasional, para pimpinan partai politik, para gubernur

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Marilah sekali lagi pada kesempatan yang amat bersejarah ini kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena kepada kita masih diberikan kesempatan, kekuatan dan semoga kesehatan untuk melanjutkan pembangunan bangsa berdasarkan Pancasila.

Saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada pimpinan MPR RI Bapak Taufiq Kiemas atas prakarsanya kembali memperingati pidato Bung Karno 1 Juni 1945.

Saya juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie dan Ibu Megawati Soekarnoputri yang disamping hadir juga menyampaikan pidato beliau pada hari yang penting ini.

Semoga kehadiran kedua beliau dan para tokoh nasional dapat lebih meningkatkan semangat, tekad, dan upaya kita bersama untuk melanjutkan pembangunan bangsa berdasarkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Hadiran sekalian yang saya hormati, saya menyimak dengan seksama apa yang disampaikan oleh Bapak Taufiq Kiemas, Bapak Habibie dan Ibu Megawati Soekarnoputri.

Saya bersetuju terhadap apa yang disampaikan Bapak Taufiq bahwa Pancasila harus jadi landasan ideologi, falsafah, etika moral pemersatu bangsa dan sumber inspirasi dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.

Presiden Soekarno pernah mengatakan, saya petik, "Sulit sekali saudara-saudara mempersatukan rakyat Indonesia itu jikalau tidak didasarkan atas Pancasila."

Hal itu Bung Karno sampaikan pada saat peringatan ulang tahun Pancasila pada tanggal 5 Juni 1958 di Istana Negara Jakarta.

Saya juga menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Bapak Habibie tadi, Presiden RI ke-3, bahwa Pancasila telah lulus ujian sejarah.

Bahwa kini seolah Pancasila tersandera dan dilupakan juga penglihatan tentang hak asasi manusia yang diunggulkan tetapi kurang diimbangi dengan kewajiban yang mesti dilakukan.

Kemudian Pak Habibie juga mengatakan kekerasan atas nama agama itu kontraproduktif. Beliau mengatakan ada bayang-bayang neokolonialisme dalam perekonomian kita, saya setuju Pak Habibie.

Itulah yang kita lakukan saat ini memastikan kontrak-kontrak baru itu benar dan adil karena sudah cukup lama, puluhan tahun kita menghadapi seperti itu. Mari kita ubah agar tidak terjadi lagi di masa depan.

Saya juga ingin menekankan arti penting yang disampaikan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri, Presiden kelima kita. Bahwa di tengah kegamangan bangsa ini melihat masa depan dalam derunya globalisasi Pancasila hadir kembali.

Dan Insya Allah akan tetap menjadi pelita dan solusi kebangsaan bagi kita.

Saya juga setuju jika berbicara Pancasila tidak mungkin tidak berbicara tentang Bung Karno. Kita mesti memberikan apresiasi kepada Bung Karno atas pemikiran besarnya dan perjuangannya yang luar biasa. Bung Karno adalah pejuang, pemikir dan penggali Pancasila.

Rumusan manapun saudara-saudara dari masa ke masa tapi substansi Pancasila tidak berubah sebagaimana yang dipidatokan pada 1 Juni 1945 yang lalu.

Ibu Megawati juga menyampaikan, saya bersetuju, janganlah mempertentangkan nasionalisme dan Islam, karena memang tidak perlu dipertentangkan.


Saudara-saudara hadirin yang saya hormati, saudara-saudara kita setanah air yang saya cintai,

Makna memperingati pidato Bung Karno 1 Juni 1945 yang banyak dimaknai sebagai hari kelahiran Pancasila, menurut pendapat saya ada dua.

Yang pertama adalah sebuah refleksi kesejarahan dan kontemplasi untuk mengingat kembali gagasan cemerlang dan pemikiran besar Bung Karno yang disampaikan oleh beliau pada 1 Juni 1945. Ingat pada saat itu para "founding fathers" kita tengah merumuskan dasar-dasar bagi Indonesia merdeka.

Bung Karno berkali-kali mengatakan beliau bukan pembentuk atau pencipta Pancasila, namun penggali Pancasila. Namun sejarah telah menorehkan tinta emas bahwa dijadikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara sangat terkait erat dengan peran dan pemikiran besar Bung Karno.

Yang kedua, memperingati pidato 1 Juni 1945 menjadi misi kita ke depan ini melakukan aktualisasikan agar pikiran besar dan fundamental itu terus dapat diaktualisasikan guna menjawab persoalan dan tantangan yang kita hadapi di masa kini dan depan.


Hadirin yang saya muliakan,

Di samping dua hal tadi yang mencerminkan pidato refleksi kesejarahan, pada kesempatan yang mulia ini,

Sekali lagi, di samping kontemplasi dan aktualisasi, saya juga ingin sampaikan satu hal penting.

Yaitu sebuah pemikiran tentang perlunya revitalisasi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, sekaligus sebagai rujukan dan inspirasi sebagai upaya menjawab berbagai tantangan kehidupan bangsa.

Saya yakin yang ada dalam ruangan ini bahkan rakyat kita di seluruh tanah air bersetuju Pancasila harus kita revitalisasikan dan aktualisasikan. Pertanyaannya bagaimana mengaktualisasikan yang efektif sehingga rakyat kita bukan hanya menghayati tapi juga mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Hal ini penting saudara-saudara, ketika kita juga mendengar akhir-akhir ini aspirasi dan pikiran banyak kalangan di negeri kita yang menyatakan bahwa telah banyak terjadi erosi terhadap penghayatan, kesadaran dan pengamalan Pancasila.

Pada peringatan pidato Bung Karno 1 Juni 1945, lima tahun yang lalu, yang kita selenggarakan di Jakarta 1 Juni 2006, Bapak Taufiq Kiemas juga hadir waktu itu.

Saya pernah menyampaikan saat itu antara lain, sebagai anak bangsa, kita harus menyudahi perdebatan tentang Pancasila sebagai dasar negara. Mengapa saudara? Karena hal itu sudah final. Tidakkah MPR RI pada tahun 1998 melalui Tap No 18 MPR 1998 telah menetapkan pacasila sebagai dasar negara?


Tidak ada alternatif lain.

Saya pada waktu itu juga mengajak rakyat Indonesia bahwa dalam era reformasi, demokratisasi dewasa ini kita perlu menata kembali kerangka kehidupan negara kita berdasarkan Pancasila bukan berdasarkan yang lain-lain, bukan diinspirasi oleh pikiran-pikiran lain meskipun Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa sejak tahun 1998 yang lalu.

Terkait pemikiran besar Bung Karno yang disampaikan pada 1 Juni 1945 itu, waktu itu saya sampaikan agar bangsa Indonesia selalu ingat dan mengetahui pandangan Bung Karno yang orisinil, yang sejati, yang cemerlang yaitu perlunya mendirikan negara kebangsaan atau negara nasional Indonesia.

Kemudian Bung Karno mengatakan apa arti nasionalisme bagi bangsa Indonesia. Kaitan nasionalisme dengan internasionalisme.

Hubungan antara demokrasi dengan kesejahteraan dan keadilan sosial. Tidak kalah pentingnya Bung Karno mengupas secara dalam hakekat Ketuhanan Yang Maha Esa.

Saudara-saudara itu telah saya sampaikan pada peringatan tahun 2006.

Tahun lalu di ruangan ini, pada peringatan pidato Bung Karno, tepat dilaksanakan 1 Juni 2010, saya kembali mengajak rakyat Indonesia untuk memahami gagasan cemerlang Bung Karno yang lain, antara lain bagaimana prinsip nasionalisme yang kita anut dan kosmopolitisme yang kita tolak, hubungan antara demokrasi, fairplay dan mufakat serta konsep gotong royong sebagai warisan luhur bangsa yang tidak boleh hilang, meski kita menuju dan akan jadi bangsa yang maju dan modern.

Saudara-saudara pada peringatan 1 Juni 2011 ini saya hanya ingin mengedepankan satu hal besar, yang juga digagas oleh Bung Karno 66 tahun yang lalu.

Yaitu pentingnya kita menegakkan dan menjalankan negara Pancasila atau negara berdasarkan Pancasila.

Yang saya maksudkan dengan negara Pancasila, disamping Indonesia adalah negara yang berdasarkan Pancasila, juga mesti dimaknai Indonesia bukan negara berdasarkan yang lain-lain.

Ingat saudara-saudara, sejak awal, para pendiri republik dengan arifnya telah membangun konsensus yang bersifat mendasar, yaitu Indonesia adalah negara berketuhanan, istilah Bung Karno, negara yang ber-Tuhan dan sekaligus negara nasional jadi bukanlah negara agama.

Meskipun bukan negara yang berdasarkan agama, agama mesti dijunjung tinggi. Kehidupan masyarakat mestilah religius dan bukan sekuler dalam arti meminggirkan agama dan tidak mengakui adanya Tuhan.

Konsensus penting lainnya yang tercetak abadi dalam sejarah kita adalah Indonesia adalah negara berdasarkan ideologi Pancasila bukan ideologi-ideologi lain yang dikenal di dunia seperti kapitalisme, liberalisme, komunisme dan fasisme.

Saudara-saudara ini sangat fundamental, yaitu dasar dari Indonesia merdeka, dasar dari negara kita adalah ideologi Pancasila.


Saudara-saudara

Akhir-akhir ini saya menangkap kegelisahan dan kecemasan banyak kalangan melihat fenomena dan realitas kehidupan masyarakat kita termasuk alam pikiran yang melandasinya.

Apa yang terjadi pada tingkat publik kita? Ada yang cemas jangan-jangan dalam era reformasi demokratisasi dan globalisasi ini sebagian kalangan tertarik dan tergoda untuk menganut ideologi lain, selain Pancasila. Ada juga yang cemas dan mengkhawatirkan jangan-jangan ada kalangan yang kembali ingin menghidupkan pikiran untuk mendirikan negara berdasarkan agama.

Terhadap godaan apalagi gerakan nyata dari sebagian kalangan yang memaksakan dasar negara selain Pancasila baik dasar agama atau ideologi lain sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, saya harus mengatakan dengan tegas bahwa niat dan gerakan politik itu bertentangan dengan semangat dan pilihan kita untuk mendirikan negara berdasarkan Pancasila.

Gerakan dan paksaan semacam itu tidak ada tempat di bumi Indonesia. Jika gerakan itu melanggar hukum tentulah tidak boleh kita biarkan. Namun satu hal, cara-cara menghadapi dan menangani gerakan semacam itu haruslah tetap bertumpu pada nilai-nilai demokrasi dan rule of law. Tidak boleh main tuding dan main tuduh karena akan memancing aksi adu domba yang akhirnya menimbulkan perpecahan bangsa.

Disamping itu negara tidak dapat dan tidak seharusnya mengontrol pandangan dan pendapat orang seorang. "We cann`t dan we shouldn`t control the mind of the people".

Kecuali apabila pemikiran itu dimanifestasikan dalam tindakan nyata yang bertentangan dengan konstitusi, UU dan aturan hukum lain, negara harus mencegah dan menindaknya.

Kuncinya saudara-saudara, negara harus bertindak tegas dan tepat tetapi tidak menimbulkan iklim ketakutan serta tetap dengan cara-cara demokratis dan rule of law.

Negara harus membimbing dan mendidik warganya untuk tidak menyimpang dari konstitusi dan perangkat perundang undangan lainnya.


Hadirin yang saya muliakan, saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang saya cintai dan banggakan,

Pada bagian akhir dari sambutan saya, saya ingin menyampaikan apa yang telah saya sampaikan tadi, bagaimana kita melangkah ke depan, mengaktualisasikan dan merevitalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan kita.

Pada 24 Mei 2011 yang lalu, atau minggu lalu, kami para pemimpin lembaga negara, disamping Presiden dan Wakil Presiden hadir Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, Ketua MA, Ketua MK, Ketua BPK dan Ketua KY kami melaksanakan pertemuan konsultasi dengan agenda utama implementasi 4 pilar kehidupan bernegara, Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Forum bersepakat bulat tentang perlunya revitalisasi Pancasila. Sementara itu saudara-saudara, melalui interaksi langsung saya dengan banyak pihak dan mengikuti apa yang diangkat di berbagai media massa saya juga mengetahui, mendengar, merasakan, amat banyak kalangan yang menginginkan perlunya dilakukan revitalisasi nilai-nilai Pancasila. Mereka semua.

Guna lebih melengkapi pemahaman saya, atas apa yang sesungguhnya menjadi pemikiran, aspirasi dan rekomendasi masyarakat luas.

Saya telah meminta BPS untuk melakukan survei tentang apa dan bagaimana rakyat kita memandang Pancasila sekarang ini.

Survei ini penting sebelum kita menentukan kebijakan, strategi dan cara-cara yang efektif dalam melaksanakan revitalisasi Pancasila nanti.

Survei BPS ini dilaksanakan tanggal 27 sampai 29 Mei 2011 mengambil sampel 12.056 responden tersebar di 181 kabupaten kota di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Metode yang dilakukan adalah wawancara langsung atau tatap muka. Siapa yang diwawancarai saudara-saudara? 12.056 responden itu terdiri dari pelajar dan mahasiswa, ibu rumah tangga, petani dan nelayan, guru dan dosen, PNS, Polri dan TNI, tenaga profesional, pengusaha, anggota DPR, dll.

Apa hasilnya? Hasil survei yang penting adalah pertama, 79,26 persen masyarakat berpendapat Pancasila penting untuk dipertahankan.

Nomor dua, 89 persen masyarakat berpendapat bahwa berbagai permasalahan bangsa, menurut mereka seperti tawuran antar pelajar, konflik antara kelompok masyarakat, antar umat beragama dan etnis karena kurangnya pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Yang ketiga, ketika ditanya bagaimana cara yang paling tepat agar masyarakat memahami dan menjalani nilai-nilai Pancasila, 30 persen berpendapat melalui pendidikan, 19 persen melalui contoh dan perbuatan nyata para pejabat di pusat dan daerah, 14 persen melalui contoh dan perbuatan nyata para tokoh masyarakat, 13 persen melalui penataran, 12 persen melalui media massa, dan 10 persen melalui ceramah keagamaan. Itu pendapat mereka.

Sedangkan yang keempat atau yang terakhir dari hasil yang penting, ketika ditanya siapa yang seharusnya melaksanakan edukasi dan sosialisasi Pancasila 43 persen menjawab sebaiknya dilaksanakan oleh guru dan dosen, 28 persen oleh tokoh masyarakat dan pemuka agama, 20 persen berarti satu dari lima orang oleh badan khusus yang bisa dibentuk oleh pemerintah semacam BP7, tiga persen oleh elite politik.


Saudara-saudara saya ingin menambahkan hasil survei lain.

Saya juga mendapatkan informasi tentang hasil survei oleh sebuah lembaga survei yang menyangkut pendapat publik tentang isu negara berdasarkan agama, yang mencuat akhir-akhir ini.

Mereka berpendapat sekitar 75 persen mereka mengatakan keinginan untuk mendirikan dan adanya gerakan politik negara berdasarkan agama itu tidak dibenarkan dan itu tidak boleh dibiarkan.

Saudara-saudara tentu saja hasil-hasil survei ini bukan menjadi satu-satunya faktor dalam menentukan langkah kita untuk melakukan revitalisasi Pancasila.

Namun pendapat dan aspirasi rakyat seperti itu mestilah kita perhatikan dan kita pertimbangkan secara seksama.

Kita ingin tentunya langkah dan cara revitalisasi Pancasila itu benar-benar efektif, bisa diterima masyarakat luas dan tidak kontra produktif.

Sebagai contoh saya telah instruksikan Mendiknas dan menteri terkait lainnya untuk segera merumuskan dan menjalankan edukasi nilai-nilai Pancasila dengan metode paling efektif, apakah melalui pengajaran formal, kegiatan ekstrakurikuler, pramuka ataupun melalui wahana seni budaya yang bisa diikuti masyarakat luas.

Saudara-saudara sekalian, sebangsa dan setanah air itulah bagian kedua, pikiran-pikiran kita untuk memastikan untuk memastikan bahwa langkah-langkah revitalisasi Pancasila akan berjalan dengan efektif.

Akhirnya, saya telah menyampaikan dua substansi utama dalam pidato ini. Pertama tadi adalah refleksi dan kontemplasi pikiran-pikiran besar Bung Karno.

Kemudian yang kedua adanya keperluan bagi kita untuk melakukan revitalisasi nilai-nilai Pancasila melalui cara-cara yang efektif, dan perlu kita garisbawahi melalui edukasi, sosialisasi dan keteladanan.

Dan pada kesempatan yang baik ini, hadirn saya ingin mengingatkan kembali bahwa Pancasila bukan doktrin yang dogmatis, tapi sebuah "living ideology", sebuah "working ideology".

Sebagai ideologi yang hidup dan terbuka, Pancasila akan mampu mengatasi dan melintasi dimensi ruang dan waktu. Saya yakin.

Namun satu hal pasti, yang ingin saya teguhkan dalam kesempatan ini, bangsa Indonesia mesti teguh dan tegas terhadap pentingnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Mari saudara-saudara kita semakin bersatu melangkah bersama, dan bekerja lebih keras untuk membangun negeri ini kearah masa depan yang lebih baik berdasarkan Pancasila.


Sekian

Wassalamualaikum wr wb.(*)

(T.G003/B013)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar Pembaca
Baca Juga