Palu (ANTARA News) - Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Dewa Parsana menyatakan bahwa empat pelaku penembakan polisi di Palu pada 25 Mei 2011 pernah mengikuti latihan perang bersama kelompoknya di daerah tertentu di Sulteng sebelum melakukan aksinya.

"Pelaku sendiri mengaku pernah mengikuti latihan perang-perangan di daerah perbatasan Poso dan Morowali," kata Kapolda Parsana di Palu, Senin.

Latihan militer itu tidak hanya diikuti peserta dari Sulawesi Tengah, melainkan juga dari Jawa, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Oleh karena itu, kata Parsana, tidak heran jika pelaku mahir menggunakan senjata api berbagai jenis.

Pelaku juga mahir membongkar dan merakit senjata api, seperti dilakukan dua tersangka penembakan yang saat ini telah tertangkap dan mendekam di tahanan.

Polisi menyakini pelaku yang berdomisili di Kabupaten Poso membawa dua senjata api laras panjang ke Kota Palu dalam bentuk terpisah.

Mereka kemudian merakit senjata itu di tempat tersembunyi, tidak jauh dari lokasi penembakan, kemudian melakukan aksinya. Pelaku menggunakan senjata jenis M-16 dan US Caribine Jungle, namun US Caribine Jungle tidak berfungsi.

Kapolda Parsana mengakui pihaknya susah mendeteksi pelaku yang merupakan bagian kelompok teroris tertentu saat melakukan latihan militer. Lokasi latihan perang itu memang jauh dari pemukiman penduduk, dan di kelilingi hutan.

"Mungkin penduduk mengira ada tentara sedang latihan perang, jadi warga tidak curiga saat mereka latihan," katanya.

Olehnya, dia juga mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada terhadap gangguan keamanan. "Kalau ada hal mencurigakan segera lapor ke polisi untuk segera ditindaklanjuti," ujar Parsana.

Dia mengatakan, tersangka utama Hariyanto dan Furqon dalam waktu dekat akan disidik di Mabes Polri guna mempermudah pemeriksaan.

"Kita di sini fokus pada pengamanan selanjutnya," kata Dewa Parsana.

Sementara itu, dua pelaku lainnya Fauzan dan Dayat tewas saat disergap aparat di Poso pada 4 Juni 2011.

(R026/S019)

Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2011