Berlin (ANTARA News/IRNA-OANA) - Menteri Pertahanan Jerman, Thomas de Maziere, mengecam operasi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang kontroversial di Libya.

Berbicara dengan majalah berita mingguan yang berbasis di Hamburg, Der Spiegel, pada Sabtu, menteri yang negaranya bukan bagian dari perang aliansi militer Barat di Libya, itu mengatakan bahwa perencanaan seluruh misi NATO di negara Afrika Utara itu cupet.

"Tentu saja, ketika anda memulai sesuatu, Anda selalu harus tahu, berapa lama Anda bisa keluar keringat," kata de Maziere seperti dikutip oleh majalah tersebut.

Jerman berada di bawah tekanan intensif oleh sekutu penting Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) - khususnya Amerika Serikat (AS), Prancis dan Inggris - untuk bergabung dengan misi militer tersebut.

Menurut de Maziere, AS sekali lagi meminta bantuan militer Jerman untuk operasi di Libya selama pertemuan NATO awal bulan ini, yang ditolak oleh pihak Berlin.

Jerman abstain dalam pemungutan suara di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa bangsa (DK PBB) pada Maret untuk penggunaan kekuatan militer guna melindungi warga sipil di Libya, yang memicu kemarahan negara-negara anggota NATO lainnya.

Sementara itu, de Maziere mengatakan hal itu juga "sangat tidak mungkin" negaranya akan mengambil bagian dalam misi penjaga perdamaian di Libya, bahkan setelah jatuhnya rezim Gaddafi.

Pengamat politik di Berlin percaya bahwa pernyataan de Maziere terbaru itu hanya akan semakin memusuhi Washington, dan memperdalam perbedaan di dalam NATO, yang peran politik dan militernya pada masa datang sekarang serius dipertaruhkan.
(Uu.H-AK/S008)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2011