Selasa, 25 Juli 2017

Kerusakan Hutan di NTT Capai 15.163 Hektar

| 6.581 Views
Kerusakan Hutan di NTT Capai 15.163 Hektar
(Ilustrasi) Hutan rusak akibat penebangan pohon terlihat di kaki Bukit Barisan, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat. (FOTO ANTARA/Iggoy el Fitra )
Kondisi alam seperti itu tidak perlu ditangisi. Mari kita berupaya untuk terus maju agar kehidupan rakyat bisa lebih sejahtera.
Kupang (ANTARA News) - Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya menegaskan selama 20 tahun terakhir kerusakan hutan di wilayah kepulauan ini telah mencapai 15.163,65 hektar, dari potensi hutan dan lahan seluas 2.109.496,76 hektar.

"Luas wilayah daratan di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 47.349,9 km persegi. Dari total tersebut hutan dalam kawasan hutan mencapai 661.680,74 ha dan di luar kawasan hutan seluas 1.447.816,02 ha," katanya di Kupang, Rabu, terkait dengan hari Lingkungan Hidup sedunia yang dirayakan setiap tahun pada bulan Juni.

Menurut Gubernur Lebu Raya, hutan merupakan komponen penting bagi bumi dalam peranannya untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

"Hutan melayani hampir semua kehidupan terutama bagi kepentingan umat manusia sehingga haruslah ada timbal balik dari umat manusia untuk menjaga dan melestarikan hutan sesuai peran dan kemampuan masing-masing," katanya.

Karena itu, menurut dia, Hari Lingkungan Hidup se-Dunia yang diperingati setiap tahun, tidak sekadar seremoni belaka tetapi penting untuk diberikan perhatian dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Gubernur Lebu Raya mengatakan, NTT selalu mengalami persoalan di bidang lingkungan hidup. Salah satunya cuaca yang kadang tidak menentu.

"Kondisi alam seperti itu tidak perlu ditangisi. Mari kita berupaya untuk terus maju agar kehidupan rakyat bisa lebih sejahtera," kata Gubernur.

Meski terkadang cuaca tidak menentu, sebut Gubernur, semua itu tidak menjadi kendala dalam mengolah lahan yang gersang.

Terbukti dengan prestasi yang diraih para penerima kalpataru.

"Saya yakin bahwa para penerima Kalpataru ini menanam di atas lahan yang gersang. Ini menunjukan bahwa di mana saja lahan itu bisa ditanami," katanya.

Ia menyebut penerima kalpataru tingkat Provinsi NTT 2011 sebanyak 12 orang dan terdiri dari 7 orang kategori Perintis Lingkungan, 4 orang kategori Pembina Lingkungan, satu orang kategori Penyelamat Lingkungan.

Selanjutnya untuk memotivasi sekolah-sekolah di Provinsi NTT yang memiliki kepedulian dalam pelestarian lingkungan hidup, maka penghargaan Adiwiyata tingkat provinsi diberikan kepada enam sekolah.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup RI, DR. Ir. Gusti Muhammad Hatta, MS dalam sambutannya meminta kepada semua pihak untuk memperhatikan dengan serius kerusakan hutan dan perubahan fungsi lahan karena memberikan kontribusi besar bagi memburuknya perubahan iklim di Indonesia.

Ancaman kelestarian hutan kata Menteri, perlu diantisipasi secara optimal dimana seluruh aktivitas pembangunan khususnya yang terkait dengan hutan harus berwawasan lingkungan dan mengacu pada daya dukung dan daya tampungnya.

"Mari kita jadikan momentum Hari Lingkungan Hidup se Dunia untuk memposisikan hutan sebagai modal utama pembangunan nasional menuju masyarakat sejahtera dan berkelanjutan. Saya ajak semua pihak untuk berpartisipasi menjaga sumber daya alam Indonesia terutama hutan agar dapat bermanfaat secara berkelanjutan," katanya.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar Pembaca