Istanbul (ANTARA News/Reuters/AFP) - Turki memutuskan hubungan diplomatik dengan pemerintah Libya Muammar Gaddafi dan menarik kembali duta besarnya, kata surat kabar resmi Turki Gazette dalam laporan akhir pekan.

Langkah itu terjadi setelah Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mengunjungi kubu pemberontak di wilayah timur Benghazi pada Ahad dan menjanjikan 200 juta dolar AS dalam bentuk bantuan kepada pemberontak Dewan Transisi Nasional (TNC).

Sudah waktunya bagi pemimpin Muammar Gaddafi meninggalkan Libya, kata Davutoglu. Dia mengatakan pemberontak Dewan Transisi Nasional adalah "wakil rakyat Libya yang sah".

Pengakuan itu disampaikan setelah jurnal resmi Turki mengumumkan Sabtu bahwa duta besar negara itu untuk Libya, Salim Levent Sahinkaya, telah diberi tugas baru di Ankara.

Sahinkaya ditarik dari Tripoli pada Maret karena pertempuran yang terjadi di sana dan tidak ada penggantinya sejak itu. Jurnal resmi itu juga menerbitkan sebuah dekrit pemerintah yang mencakup sanksi-sanksi PBB yang diberlakukan Turki terhadap Libya, Gaddafi, keluarganya dan para pejabat pemerintah.

Pengakuan de fakto Minggu oleh Turki itu juga diumumkan ketika pemberontak Libya menyatakan akan melancarkan ofensif ke Tripoli.

Turki, satu-satunya negara anggota NATO yang berpenduduk muslim dan merupakan pemain penting regional, secara bertahap mengambil sikap keras terhadap Libya, setelah pertama-tama mengecam serangan udara Barat terhadap pasukan Gaddafi.

Tetapi Turki menolak mengambil bagian dalam operasi udara NATO di Libya, meskipun menyediakan enam kapal perang untuk membantu memberlakukan embargo senjata yang diberlakukan NATO di perairan Libya.

Selain Turki, sejumlah negara yang telah mengakui NTC sebagai perwakilan sah rakyat Libya adalah Uni Emirat Arab (UAE), Australia, Inggris, Prancis, Gambia, Italia, Yordania, Malta, Qatar, Senegal, Spanyol dan AS.(*)

(Uu.H-AK/S004)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011