Jakarta (ANTARA News) - Gejolak inflasi akan terjadi di semester kedua, karena adanya hari raya yang merupakan faktor musiman. Meskipun pada semester pertama angka inflasi hanya mencapai 1,06 persen.

"Inflasi kita kalau dihitung dari 1 Januari hingga 30 Juni memang angkanya masih cukup melegakan, karena baru mencapai 1,06 persen , namun tidak bisa dilupakan bahwa kemungkinan gejolak inflasi akan terjadi di paruh kedua, baik karena hari raya yang merupakan faktor musiman, maupun faktor harga komoditi yang mungkin akan sulit turun, baik energi maupun pangan," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang Permadi Soemantri Brojonegoro dalam sebuah diskusi, di Jakarta, Selasa malam.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya menyebutkan bahwa laju inflasi tahun kalender (Januari-Juni) 2011 sebesar 1,06 persen dan laju inflasi year on year (Juni 2011 terhadap Juni 2010) sebesar 5,54 persen. Sedangkan pada Pada bulan Juni 2011 terjadi inflasi sebesar 0,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 126,50.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada kelompok bahan makanan 1,27 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,41 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,30 persen.

Kemudian, pada kelompok sandang terjadi inflasi 0,57 persen, kelompok kesehatan 0,41 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,18 persen dan kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan 0,15 persen.

"Khusus untuk penyesuaian harga BBM bersubsidi, kalau saya mengingat ke belakang, kebijakan yang saat ini berlangsung adalah kita ingat apa yang terjadi pada tahun 2010 lalu," tambahnya.

Ia menjelaskan, pada saat itu pemerintah dengan dukungan Bank Indonesia (BI) menyepakati bahwa target inflasi adalah 5,3 persen. Bahkan sampai kuartal ketiga semua pihak optimis angka tersebut tercapai.

Namun, menjelang kuartal IV terjadi apa yang tidak diperkirakan sebelumnya yaitu gejolak harga pangan dan gejolak harga energi. Pemerintah pada saat itu bisa dibilang tidak siap menghadapi hal itu yang diluar perkiraan. Akibatnya, inflasi yang tadinya diharapkan tidak jauh dari 5,3 persen melesat hampir 7,0 persen, tepatnya 6,9 persen.

"Belajar dari tahun 2010 tersebut, pemerintah kemudian merespon dengan kebijakan yang lebih ketat di paruh pertama 2011," jelasnya.

Ditambahkannya, pemerintah tentu punya pertimbangan lain bahwa kalau inflasi ini tidak dijaga dan kemudian terjadi kebijakan terkait dengan BBM bersubsidi, baik itu kenaikan harga maupun yang ujungnya memicu inflasi, dikhawatirkan inflasi bisa menjadi tinggi.

"Kalau ada gejolak inflasi diluar perkiraan maka yang paling menderita adalah kelompok masyarakat menengah ke bawah, harga yang naik akan mencerminkan daya beli mereka langsung. mungkin ini bisa dijadikan salah satu penjelasan kenapa masalah penyesuaian BBM bersubsidi belum dijadikan prioritas," jelasnya.

Ia memaparkan bahwa harga beras dan harga beberapa komoditi yang naik akhir-akhir ini ini memang sudah diperkirakan sebelumnya dan ini selalu terjadi setiap tahun. Jadi pada paruh kedua nanti, ketika panen raya sudah lewat, otomatis harga beras akan naik.

"Secara matematika, kalau satu semester inflasinya 1,06 persen, tentu setahun cuma 2,12 persen. Tapi, ini mustahil, inflasi yang rendah pada semester pertama terjadi karena ada deflasi pada bulan Maret-April, sedangkan kedepan potensi deflasi sangat kecil, yang terjadi adalah potensi inflasi, entah sebulan 0,5 persen atau 0,3 persen tapi diperkirakan terjadi akumulasi yang dapat menyulitkan pemerintah untuk menghandle laju inflasi," ujarnya.