Benghazi, Libya (ANTARA News) - Lebih dari 20.000 orang telah tewas di Libya, sejak konflik meletus pada Februari di negara Afrika Utara itu, kata pemimpin gerilyawan Mustafa Abdel Jalil, Kamis (25/8).

Ketika berbicara pada taklimat di kota Benghazi, Libya timur, Abdel Jalil --pemimpin Dewan Peralihan Nasional (NTC)-- mengatakan ia tak memiliki keterangan mengenai jumlah pasti korban jiwa tapi ia menduga konflik tersebut telah merenggut lebih dari 20.000 jiwa.

Mustafa Abdel Jalil mengatakan gerilyawan sekarang memiliki banyak simpanan minyak, gas, makanan dan obat saat mereka telah merebut mayoritas wilayah Libya, demikian laporan Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Jumat.

Sumber daya minyak dan gas yang terdapat di kota Zawiyah, sekitar 40 kilometer di sebelah barat ibu kota Libya, Tripoli, cukup untuk memasok seluruh Libya selama beberapa bulan, sementara makanan yang ditemukan di gudang penyimpanan di Tripoli cukup untuk mendukung warga ibu kota itu sepanjang tahun, katanya.

Abdel Jalil mengatakan gerilyawan sedang menyelenggarakan pembicaraan dengan para tetua suku di Sirte, tempat kelahiran Muamar Gaddafi, bagi "revolusi" damai di kota tersebut.

Ia juga mengatakan, "NTC menyambut baik setiap perundingan langsung dan tidak langsung dengan setiap kelompok atau negara bagi pembebasan nasional dini."

NTC berencana memindahkan markasnya ke Tripoli.

Pada Rabu (24/8) beberapa komandan pemberontak mengatakan pasukan yang setia kepada Gaddafi mengepung kota kecil yang dikuasai pemberontak, Zuwarah, di sebelah barat Tripoli.

Mereka menambahkan para petempur oposisi kalah banyak untuk menembus kepungan itu. Kolonel Abu Salem mengatakan pasukan pemberontak di Zuwarah telah meminta bantuan dari Zintan dan tempat lain di Libya selatan, yang dikuasai pemberontak dan upaya sedang dilakukan guna mengirim balabantuan. (C003/A011/K004)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011