Denpasar (ANTARA News) - Menteri Pariwisata dan Kebudayaan Jero Wacik menilai, hingga saat ini sisi kebudayaan di Indonesia berada dalam kondisi kesepian.

"Kesepian dalam artian sisi budaya ketinggalan hiruk pikuknya dibandingkan sisi politik dan ekonomi," kata Jero Wacik usai membuka Seminar Nasional Kebudayaan di Universitas Udayana, di Denpasar, Kamis.

Dalam seminar yang bertajuk "Kontribusi Bali dalam Proses Pembentukan Karakter Bangsa, Kebudayaan Nasional dan Global" itu, ia mengatakan pada dasarnya kehidupan mempunyai tiga jalur besar yakni, jalur politik, ekonomi dan budaya. "Hanya saja posisi kebudayaan masih relatif kesepian," kataya.

Ia mencontohkan, hal itu bisa dilihat saat ada pertemuan politik, seperti kongres, seminggu sebelum acara akan sangat nampak hiruk pikuknya. Ramai tokoh yang datang, pemasangan bendera dan baliho bahkan pemberitaan dari media. Pun sama dengan kegiatan yang bernuansa bisnis.

"Sedangkan dalam pertemuan kebudayaan, paling banyak yang datang sejumlah peserta seminar ini," katanya.

Agar budaya tak terus berada dalam kondisi kesepian, ia mengajak segenap masyarakat menjadikan filsafat atau budaya adiluhung yang diwariskan nenek moyang, supaya dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.

"Kurangilah berkelahi dan para pemimpin di semua lapisan harus punya kearifan. Pemimpin itu tidak hanya yang menjadi presiden, menteri, gubernur dan bupati, termasuk pula kepala desa dan pemimpin formal di daerah harus mempraktikkan," ujarnya.

Ia menambahkan, pemimpin di lini paling bawah ini sangat penting perannya. Jika pemimpin mau arif, konflik di tingkat masyarakat terbawah pun akan berkurang.

"Kalau ada kepentingan politis, itu harus dibelakangkan. Dengan mengedepankan sisi politik justru seringkali memicu konflik horizontal," ucapnya.

Orang asing, lanjut dia, banyak yang kagum dengan budaya Indonesia. "Mari itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Praktikkan warisan kebudayaan dengan berpikir yang baik, mengedepankan perilaku santun dan kasih sayang," ucapnya.
(T.KR-LHS/B013)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011