Rabu, 3 September 2014

Pernikahan nan agung Yogyakarta untuk rakyat

Selasa, 18 Oktober 2011 19:59 WIB | 3.645 Views
Pernikahan nan agung Yogyakarta untuk rakyat
Tantingan Sri Sultan Hamengku Buwono X (kanan) menerima sungkem dari putri bungsunya GKR Bendara saat prosesi tantingan di Tratag Proboyekso, Kompleks Kraton Yogyakarta, Yogyakarta, Senin malam. Tantingan merupakan prosesi mempertanyakan kemantaban hati calon pengantin putri. (FOTO ANTARA/Puspa Perwitasari)
Adalah hal indah saat dua individu mengikat janji dalam ikatan perkawinan. Janji sehidup-semati yang dua sejoli tersebut sangat menarik perhatian bila terjadi antara pasangan berlatar belakang istimewa. Pernikahan kerajaan adalah salah satu contoh acara seremonial yang selalu ditunggu publik di seluruh dunia.
   
Banyak hal akan dibahas dan dibicarakan, misalnya busana kedua mempelai, bagaimana upacaranya, siapa saja yang diundang, berapa biaya yang dikeluarkan, bagaimana riasan dan siapa yang merias. Tentu saja masih banyak pertanyaan lain yang bermunculan akibat rasa ingin tahu publik yang mendalam.
    
Keraton Yogyakarta sedang punya gawe besar, berupa pernikahan putri bungsu Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, dengan Achmad Ubaidillah atau Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara pada hari Selasa, di Kepatihan, Bangsal Kencono, Keraton Yogyakarta.
    
Kalau kita mau membandingkan, jumlah tamu yang diundang Keraton Yogyakarta lebih banyak ketimbang yang dilakukan Istana Buckingham, saat menikahkan Pangeran William dan Kate Middleton. 2.500 tamu masuk dalam daftar undangan Keraton Yogyakarta ketimbang 1.900 di Istana Buckingham. 
    
Jumlah perias pasangan pengantin agung itu juga banyak, sampai 18 orang. Mereka juga merias keluarga masing-masing pihak yang berbesanan.
    
"Presiden Susilo Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono akan hadir pada resepsi pernikahan yang digelar di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat  pada Selasa siang," kata adik Sri Sultan Hamengku Buwono X, GBPH Joyokusumo.
     
Mengingat peran dan posisi khas Keraton Nyagogyakarta Hadiningrat, mereka juga mengundang tamu-tamu penting, di antaranya Presiden Yudhyono dan Ibu Ani Yudhoyono, serta Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati Boediono. 
    
Karena tamu-tamu penting dan tamu lain begitu banyak, maka tingkat hunian hotel-hotel di Yogyakarta menjadi sangat padat. Semua hotel menyatakan penuh disewa kamar-kamarnya.
Manajer Hubungan Masyarakat The Phoenix Hotel Yogyakarta, Wiwied A Widyastuti, mengatakan hotelnya telah penuh dipesan sejak 15 hingga 17 Oktober 2011.
    

Pesta rakyat
    
Pernikahan GKR Bendara dengan KPH Yudanegara bukan cuma miliknya keraton saja. Jauh sebelum Indonesia merdeka, keraton itu telah berdiri dan memiliki pengaruh besar. Adalah Sultan Hamengkubuwono IX, yang menyatakan, "Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berada di dalam Republik Indonesia." Sitihinggil keraton itu juga direlakan menjadi ruang kuliah Universitas Gadjah Mada pada masa-masa awalnya. 
   
Karena yang berpesta adalah rakyat juga, maka aneka jenis sedap-sedapan dan kudapan disediakan keraton. "Mulai dari "nasi kucing", tempe-tahu goreng dan bacem, wedang jahe, sampai jeruk itu, bisa dinikmati warga masyarakat secara gratis pada 17-18 Oktober 2011," kata Ketua Sekretariat Bersama Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Widihasto Wasana Putra.
    
Menurut dia, angkringan-angkringan itu disiapkan di sekitar simpang empat Kantor Pos Besar, Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, Benteng Vredeburg, dan Jalan Malioboro.

    
"Masyarakat yang menyaksikan prosesi pernikahan putri bungsu Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di sekitar tempat itu melalui videotron dan layar lebar dapat menikmati berbagai sajian di angkringan secara gratis," katanya.

    
Ia mengatakan semua itu merupakan sumbangan sukarela dari berbagai perusahaan swasta, organisasi profesi, dan sejumlah komunitas untuk mangayu bagya (ikut berbahagia) atas pernikahan GKR Bendara dengan KPH Yudanegara.
    
"Kami sungguh senang bisa menikmati berbagai makanan dan minuman secara gratis. Jika tidak ada pernikahan putri Sultan," kata seorang warga dari Sendangtirto, Berbah, Sleman, DIY, Sunardi (48).

    
Sunardi datang bersama istri dan dua anaknya. Mereka senang bisa menyaksikan pentas seni sambil menikmati sajian di angkringan.

    
"Ini benar-benar pesta rakyat, karena warga dapat menikmati suguhan pentas seni dan berbagai sajian di angkringan tanpa dipungut biaya," katanya.

    
Selain angkringan, di Jalan Malioboro juga akan digelar berbagai pertunjukan seni tradisional yang akrab di tengah masyarakat, seperti Theklek Jathilan, Tari Ndolalak, dan Tari Kijang Sangkar.

    
"Pertunjukan seni itu melibatkan warga, tidak hanya dari Yogyakarta, tetapi juga dari beberapa daerah seperti Solo, Boyolali, dan Magelang," katanya. (SDP-02)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2011

Komentar Pembaca
Baca Juga