Jakarta (ANTARA News) - Jika Anda atau keluarga perempuan Anda mengalami nyeri haid yang hebat dan sering, segeralah memeriksa diri ke dokter karena kemungkinan itu adalah gejala Endometriosis.

Sekretaris Masyarakat Ginekologis Endoskopi Indonesia (IGES), dr. Herbert Situmorang, SpOG, di RS Ibu dan Anak YPK Mandiri Jakarta, Senin (14/11) mengungkapkan penyakit endometriosis adalah salah satu penyakit yang sering menyerang perempuan pada usia reproduktif, terutama mereka yang sedang haid.

Penyakit ini bukan kanker, tetapi sifat pertumbuhan penyakit menyerupai kanker yang bisa menyebar ke organ sekitar panggul dan bahkan bisa sampai ke paru-paru.

"Ada dua keluhan penderita endometriosis. Pertama, nyeri di daerah panggul yang bersifat siklik terutama ketika haid. Kedua, sulit punya anak," katanya.

Herbert menjelaskan penyebab endometriosis karena sebagian selaput lendir rahim bagian dalam tumpah ke dalam rongga perut, bukan melalui vagina.

Ia menjelaskan beberapa faktor seperti usia produktif, genetik, dan lingkungan merupakan penyebab endometriosis. Perempuan berusia 20-30 tahun, menurut Herbert, banyak mengeluarkan darah haid sehingga kemungkinan mengidap endometriosis juga semakin tinggi.

Terkait faktor lingkungan Herbert menyebutkan banyaknya polutan dan zat buangan industri seperti dioksin ditengarai merusak sistem imun yang semestinya membersihkan sel darah haid.

"Kalau didiagnosis dan diterapi lebih dini, kerusakan yang ditimbulkan akibat penyakit ini bisa dicegah. Jika penyakit ini menyerang organ kandungan, pasien akan sulit punya anak. Bahkan dengan teknologi bayi tabung, keberhasilannya jauh lebih rendah," katanya.

Herbert menjelaskan pengobatan endometriosis dilakukan dengan dua tahap yaitu dengan pengobatan hormonal dan dengan operasi endoskopis.

"Terapi hormonal salah satunya dengan pil KB yang berisi estrogen dan progesteron. Jika rasa nyerinya berkurang, bisa diasumsikan ada endometriosis di dalam tubuh pasien dan itu harus diterapi. Tapi tidak harus dioperasi karena tidak ada sesuatu yang harus diangkat," katanya.

(ANT/SDP16)

Pewarta: Desy Saputra
Editor: Desy Saputra
Copyright © ANTARA 2011