Kesiapan Indonesia ke AEC penuh tanda tanya
Selasa, 13 Desember 2011 21:14 WIB | 1686 Views
Adam Rizal
Singapura bisa maju karena SDM-nya sangat disiapkan mentalitas dan integritasnya terhadap kepentingan nasional. Korupsi diberantas semaksimal mungkin sehingga kepastian hukum terjamin di sana. Indonesia juga menuju ke sana, di antaranya mengurai kasus suap cek perjalanan yang melibatkan Nunun Nurbaeti (foto). Hal-hal seperti ini sangat pokok dalam penyiapan SDM dan interkonektivitas menuju Komunitas Ekonomi ASEAN pada 2015.(FOTO ANTARA/M Agung Rajasa)
... berdasarkan studi internal, Indonesia belum siap memasuki forum perdagangan dalam komunitas ekonomi di ASEAN pada 2015 itu.
Berita Terkait
Depok (ANTARA News) - Interkoneksi pada segala lini dan kesiapan SDM
menjadi kata-kata kunci utama jika Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC) pada
2015 diwujudkan. Tiada pilihan lain, Indonesia harus segera menyiapkan diri terhadap
kata-kata kunci itu, terutama saat semua pintu perdagangan antar
negara-negara di Asia Tenggara saling terbuka.
Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof Firmanzah PhD,
mengatakan, walau Indonesia ikut memotori perwujudan AEC pada 2015,namun
sepengetahuannya belum ada usaha bersama mempersiapkan percepatan
profesi tenaga kerja.
"Siap-siap tidak siap, (Indonesia) harus siap," katanya ketika menggelar
jumpa pers dalam seminar "Indikator Ekonomi Baru untuk Perbaikan
Kebijakan Publik dan Tinjauan Ekonomi 2012" di Kampus Universitas
Indonesia, Depok, Selasa.
Karena itu, pemerintah harus segera menyiapkan sumber daya manusia
Indonesia yang mumpuni dan sesusai dengan standar internasional.
Harapannya, SDM itu bersaing dengan tenaga profesional dari negara Asia
Tenggara lainnya.
"Pemerintah harus menggandeng, mewadahi dan menggandeng semua asosiasi,
tenaga profesi dan SDM itu sendiri," katanya.
Tentunya, Indonesia tidak ingin mengulang ketidaksiapan daya saing dan
beli penjual lokal menerima gempuran produk-produk dari China. Kerjasama
ASEAN China Free Trade Area
(ACFTA) terbukti merugikan dan mematikan usaha UKM kecil Indonesia.
Sementara itu, dosen UI, Dr Telisa Aulia Falianty, melihat ada dua teori
menyikapi kerjasama antar negara Asia Tenggara tersebut. "Pertama, siap
dulu baru ikutan. Kedua, ikut-ikutan baru beradaptasi dan
mengevaluasi," katanya.
Falianty mengatakan, berdasarkan studi internal, Indonesia belum siap
memasuki forum perdagangan dalam komunitas ekonomi di ASEAN pada 2015 itu.
Masih banyak sektor yang harus dibenahi dan diperbaiki, di antaranya
suku bunga bank-bank di Indonesia saat ini pada posisi enam persen masih
terlampau tinggi untuk ukuran Asia Tenggara.
Singapura dengan fundamental ekonomi berbasis perdagangan internasional
menetapkan suku bunga hanya tiga persen sehingga amat atraktif bagi
investor dalam negeri dan luar negeri. Belum lagi sistem hukum yang sangat bisa diandalkan para pebisnis internasional.
"Jangan sampai perusahaan-perusahaan domestik lebih memilih bank
Singapura nantinya," katanya.
Tidak ada kata lain, pemerintah juga harus menyiapkan SDM, membangun
infrastruktur dan meningkatkan daya saing nasional. Sekaligus
mempromosilkan AEC 2015 ke masyarakat karena banyak masyarakat belum
mengetahuinya. (adm) Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © 2011
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com