Jumat, 30 September 2016

Pengamat: budaya menabung masyarakat Indonesia masih rendah

| 15.803 Views
id aviliani, menabung, konsumen
Pengamat: budaya menabung masyarakat Indonesia masih rendah
Ilustrasi Menabung. (FOTO ANTARA/HO-Suwondo)
Bogor (ANTARA News) - Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Aviliani menyebutkan budaya menabung di masyarakat Indonesia masih rendah.

"Rendahnya budaya menabung karena minimnya kesadaran masyarakat. Mereka merasa menabung bukanlah sebuah keharusan untuk masa depan," katanya saat ditemui usai ujian terbuka disertasi Program Doktor Manajemen Bisnis di Auditorium Fakultas Pertanian Gedung Thoyib Hadiwijaya Kampus Dramaga, IPB, Selasa.

Menurut Avi sapaan wanita kelahiran Malang 1961 ini, rendahnya budaya menabung masyarakat Indonesia karena kecendrungan tingkat konsumsi masyarakat tinggi.

Masyarakat Indonesia banyak menjadi konsumen, ini menunjukkan mereka kurang memikirkan masa depan dengan menabung.

"Padahal dengan menabung kita dapat mengontrol tingkat konsumsi kita sendiri," katanya.

Mendorong terciptanya budaya menabung di masyarakat menjadi salah satu tujuan dari hasil penelitian disertasi yang dilakukan Aviliani.

Dalam disertasinya yang berjudul "Analisis Segmentasi Nasabah Tabungan Bank Berdasarkan Customer Value (Studi pada salah satu Bank BUMN)", Avi mengungkapkan perlu adanya segmentasi nasabah untuk menekan biaya operasional perbankan nasional, dan menerapkan strategi promosi yang tidak bersifat generik.

"Dengan mengsegmentasikan nasabah, biaya lebih efisien karena bisa tahu kebutuhan mereka apa," kata Avi.

Avi mengatakan, profile nasabah sangat diperlukan agar bank mampu mengetahui karakteristik dan kebutuhan nasabah saat ini maupun masa mendatang.

Salah satu pemasaran dengan pendekatan nasabah adalah "Customer Relationship Management (CRM).

Lebih lanjut wanita yang juga menjabat sebagai Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) mengatakan arah penelitian ini yang pertama adalah menunjukkan perlu adanya segmentasikan nasabah, jadi jangan hanya generik. Dengan mensegmentasikan nasabah biaya lebih efisien karena bisa tau kebutuhan mereka apa.

"Arah yang ke dua adalah menumbuhkan budaya menabung dan dengan pendidikan yang rendah sehingga sosialisasi perbankan perlu bersifat edukasi," katanya.

Dikatakannya, topik penelitian yang diambil sebagai wujud keinginan untuk mendesain CRM sebagai strategi dalam meningkatkan "cross selling" tabungan bank dengan riset lebih dahulu melalui segmentasi nasabah tabungan berdasarkan "costumer value" dengan studi kasus di Bank BRI.

Avi menjelaskan, biaya operasional perbankan nasional bisa ditekan dengan cara segmentasi.

Dari hasil riset yang dilakukannya menunjukkan orang menabung karena kredit dan nasabah menambung karena untuk kebutuhan kredit.

"Untuk bisa mendapatkan kredit syaratnya harus menabung, jadi banyak yang menabung karena keperluan kredit," katanya.

Tapi, lanjut dia, bagaimana menabung menjadi sebuah kebiasaaan belum terlihat di sini. Oleh karena itu, segementasi dengan melakukan pendekatan kepada pelajar dilakukan lebih tinggi dan sosialisasi pun lebih ditingkatkan.

Dikatakannya, untuk perbankan Indonesia perlu menggerakkan tabungan ke berbagai segmen, dari yang pelajar hingga masyarakat makro. Menurutnya bahwa ekonomi investasi akan ditunjang dari tabungan.

Orang yang melakukan tabungan paling banyak wiraswasta dan PNS dan swasta. Perusahaan menabung karena kredit dan konsumsi.

"Kalau usaha kredit untuk sektor usaha. menabung karena terpaksa bukan karena kesadaran dia menambung," katanya.

Oleh karena itu lanju Avi, perlu adanya segmentasi nasabah, jadi perbankan jangan hanya melakukan promosi secara generik. Dengan segmentasikan nasabah biaya lebih efisien karena bisa tau kebutuhan mereka apa.

Diungkapkannya, fenomena saat ini kebanyakan orang menabung karena untuk kredit, menabung untuk kebutuhan itu jarang terjadi.

Dengan adanya segmen yang harus dipelajari. Perbankan juga perlu mengembangkan nasabah mikro, yakni pelajar dan masyarakat umum.

"Jika ingin mengajarkan menambung dari pendidikan. harusnya sekolah-sekolah menjadi fokus agar orang mau menabung karena kebutuhan," katanya.

Hasil penelitian lainnya dalam disertasinya, Avi mengungkapkan bahwa inventor di perbangkan cukup tinggi tapi "device incame" belum tinggi. Sosialisasi menggunakan sms banking itu aman, menggunakan atm juga aman ternyata belum tersosialisasi dengan baik.

Avi menambahkan, ini yang harus disosialisasikan. Sosialisasi dan edukasi yang belum dilakukan oleh perbankan kepada nasabah khususnya nasabah mikro.

"Perbankan harus tertarik dengan nasabah mikro, kenapa? karena jumlahnya lebih banyak. Mereka cenderung lebih loyal dibandingkan orang yang saldonya banyak "turovernya" juga besar tentu resikonya lebih besar juga," ujarnya.

Menurutnya lebih loyalnya nasabah mikro, karena mereka menaruh tabungan tidak sering diambil. Tapi kalau nasabah yang besar, besar tabungan besar "turnover" juga tinggi karena transaksi terus menerus.

"Yang ke dua kecendrungannya nasabah deposito mempunyai bergaining position lebih besar. Jika ada bank yang lebih tinggi nasabah bisa berpindah," ujarnya.

Padahal sudah dapat hadiah di bank yang lama. "Ini yang menurut saya justru bank tidak aman dari dana-dana besar, tapi justru lebih aman dari dana-dana mikro," ujarnya. (LR/M027)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar Pembaca