Jakarta (ANTARA News) - Pengamat ekonomi Aviliani membenarkan laporan majalah ekonomi terkemuda dunia The Economist bahwa Indonesia sukses bertahan dari krisis global karena memiliki sistem moneter yang stabil dan kebijakan fiskal yang mendorong pertumbuhan.

Indonesia dianggap memiliki laju inflasi, pertumbuhan kredit, tingkat suku bunga, pergerakan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS serta anggaran negara, yang relatif sehat dan terjaga.

Kepada ANTARA News, Kamis, Aviliani membenarkan semua laporan majalah The Economist itu, seraya mengatakan bagian terpenting dari kebijakan moneter adalah pada sistem perbankan di mana saat ini mereka cenderung konservatif karena sumber dana berasal dari nasabah bank.

Aviliani juga menilai kebijakan fiskal Indonesia cukup bagus karena utang di bawah rasio 25 persen sedangkan rasio utang negara-negara Eropa yang sedang krisis adalah 100 persen.

"Fiskal kita aman, juga fiskal APBN," kata Aviliani.

Aviliani yakin krisis Eropa tidak akan berdampak besar kepada Indonesia, mungkin hanya sektor manufaktur,. Sebaliknya, negara-negara seperti China akan merasakan dampak besar krisis  itu.

"Krisis Eropa akan berdampak pada perekonomian China sebesar 30 persen karena sekitar 70 persen produk-produk China diimpor ke AS dan Eropa," katanya.

Aviliani khawatir situasi ini membuat China mengarahkan perdagangannya ke negara-negara Asia termasuk Indonesia. Dia mendesak pemerintah segera mengantisipasi hal ini dengan memperketat standar barang-barang impor masuk ke Indonesia.

"Jika tidak diperketat, maka para pedagang kecil atau UKM yang akan terkena dampaknya," katanya.

adm

Editor: Jafar M Sidik

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar