Jakarta (ANTARA News) - Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat kajian tentang Indonesia dan ASEAN, mengingat cukup banyak cagar budaya dan peninggalan masa lampau yang ditemukan di Nusantara.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh di Kantor Presiden di Jakarta, Kamis, usai mendampingi Professor Stephen Oppenheim bertemu dengan Presiden Yudhoyono, mengatakan bahwa Indonesia memiliki modal peninggalan sejarah masa lampau yang cukup banyak sehingga cocok bila menjadi pusat kajian.

"Bukti-bukti mengenai masa lalu itu jelas sudah ada. Taruhlah Sangiran, di tempat itu ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya itu, 3000 tahun sebelum Masehi sudah ada. Artinya, sejak dulu kala, kita sudah ada asal-usulnya pun beragam. Hanya saja karena perkembangan menjadi dibagi-bagi menjadi negara dan bangsa," katanya.

Mohammad Nuh menyampaikan apresiasi terhadap Universitas Indonesia yang pada 9 Februari 2012 hingga 10 Februari 2012 mendatang akan menyelenggarakan konferensi internasional tentang Indonesia.

"Di situlah relevansi mengenai tema konferensi "Unity, Diversity....", menjadi penting. Kita mendorong Indonesian studies, kita ingin nanti Indonesia menjadi pusat kajian-kajian tentang Indonesia sendiri dan kawasan ASEAN," katanya.

Ia mengatakan selama ini untuk mempelajari mengenai perkembangan kebudayaan negara-negara ASEAN para peneliti Indonesia harus ke luar negeri untuk mendapatkan data-data yang diperlukan.

"Maka ke depan UI dan perguruan tinggi yang lain harus mengambil peran. Kalau pusat-pusat studi tentang Indonesia ya di Indonesia. Oleh karena itu, kami akan memberikan dukungan penuh kepada pusat-pusat studi yang ada di Indonesia termasuk membangun kerja sama dengan pusat studi yang ada di berbagai negara," katanya.

Ia menjelaskan pusatnya haruslah di Indonesia. Kegiatan konferensi di Bali sebagai salah satu road map mile tools untuk membangun Indonesia sebagai pusat studi Indonesia dan juga kawasan Asia.

(P008/Z003)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar