Buku besutan terakhir Kantor Berita ANTARA pada 2011, "Jangan Panggil Septi Monyet". Buku dalam balutan gaya tulisan bertutur menggali inspirasi dan nilai-nilai dari kehidupan keseharian bangsa Indonesia di seluruh Nusantara. (ANTARA News/Ade P Marboen)

... Septi… dipamerkan bersama orang-orang yang dianggap aneh, seperti makhluk lain yang kulitnya bersisik seperti ular...
Berita Terkait
Gorontalo (ANTARA News) - Malang dan tragis sekali nasib Septiani Abdul, atau Septi (12). Dijanjikan seseorang dari Jakarta bernama Chandra untuk menjadi bintang sinetron, eehh.... malah dipertontonkan keliling di mal-mal, laiknya makhluk aneh!

Septi memang tumbuh dalam kondisi berbeda dengan manusia lain, di sekujur tubuh hingga bagian mukanya ditumbuhi rambut panjang. Dia bersekolah di kampungnya, di Desa Tilangobula, Kecamatan Sumawa Timur, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Dalam interaksinya dengan teman-teman dan guru-gurunya, dia mendapat tempat tersendiri. Saat bersekolah itu --kini dia putus sekolah-- guru-gurunya sayang kepada anak perempuan dari keluarga miskin yang memiliki semangat belajar itu.

Kisah tentang Septi ini dibukukan oleh Kantor Berita ANTARA, bertajuk "Jangan Panggil Septi Monyet", dalam rangka 74 tahun kantor berita nasional itu; sebagai kisah inspiratif bagi bangsa.

Begitulah, untuk mengubah nasib maka ibunya, Fatma Nusi (41), menyetujui ajakan Chandra yang mengaku perwakilan dari satu perusahaan penting untuk ke Jakarta. Janji dari Chandra, Septi akan menjadi bintang satu seri sinetron. Faktanya? Anak perempuan dia itu ternyata hanya dipertontonkan secara keliling, di mal dan kebun binatang.

"Septi… dipamerkan bersama orang-orang yang dianggap aneh, seperti makhluk lain yang kulitnya bersisik seperti ular," ungkap Fatma Nusi, Kamis. Septi juga sempat diajak pertunjukan keliling hingga ke pulau Sumatera, Kupang dan Bali.

Sebagai ibu, jelas dia sangat kecewa dan tertipu atas "kebaikan hati" Chandra itu. Lebih jauh lagi, Septi tidak bisa melanjutkan sekolahnya di SD Negeri 1 Sumawa Timur karena dia banyak meninggalkan pelajarannya. Ngomong-ngomong, Nusi menyambung hidup sebagai buruh cucian rumah tangga di kampungnya.

Septi sendiri, sangat ingin bersekolah lagi. "Saya masih ingin sekolah. Saya ingin jadi dokter," kata gadis yang dikenal ibunya sebagai sosok periang dan percaya diri itu. (KR-SHS)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar