Cotabato, Filipina (ANTARA News/Xinhua-OANA) - Serangan udara militer Filipina terhadap sarang gerilyawan yang menewaskan 15 orang termasuk pemimpin lokal kelompok Abu Sayyaf dan dua anggota jaringan Jemaah Islamiyah berisiko pada kehidupan sandera warga asing.

Kelompok tersebut menyandera warga Swiss, Belanda dan Australia di Filipina selatan.

Juru bicara Front Pembebasan Islam Moro (MILF), Von Al Haq, mengatakan pada Sabtu bahwa anggota Abu Sayyaf mungkin menyeleksi untuk membunuh tawanan mereka, wisatawan Elwold Horn, 52 tahun, dari Belanda; Lorenzo Vinciguerra, 47 tahun, dari Swiss, dan Warren Richard Rodwell 53 tahun dari Australia sebagai pembalasan atas kematian pemimpin dan rekan-rekan mereka.

"Kami tahu apa yang mereka bisa lakukan. Pedang-pedang mereka adalah hukum mereka. Kematian pemimpin mereka terlalu menyakitkan bagi mereka. Kami menyilangkan jari kami kepada mereka untuk tidak melakukannya," kata Al Haq.

Dua orang asing, keduanya staf museum di negara masing-masing dan terlibat dalam konservasi hewan, dan pemandu mereka berkebangsaan Filipina Ivan Sarenas, dilaporkan diculik oleh lima tersangka bersenjata terkait dengan Abu Sayyaf di perahu mereka di kota Panglima Sugala pada 1 Februari.

Kemudian, Serenas berhasil melarikan diri dari tangan penculik mereka.

Di sisi lain, Rodwell, yang sebelumnya bekerja sebagai guru di China, diculik pada 5 Desember di kota Ipil di provinsi bergolak Zamboanga Sibugay.

Informasi terbaru yang diperoleh oleh pasukan keamanan pemerintah menunjukkan bahwa Rodwell diserahkan oleh penculik kepada militan Abu Sayyaf yang beroperasi di provinsi selatan Basilan.

Pesawat-pesawat Angkatan Udara Filipina membomi sarang mereka di kota Parang di Provinsi Sulu pada 2 Februari, menewaskan 15 gerilyawan termasuk Gumbahali Jumdail, yang dikenal sebagai Dr Abu, pemimpin senior Abu Sayyaf, dan pemimpin Jemaah Islamiyah (JI) Zulkipli Abdul Hir alias Marwan dan Muhammad Ali alias Mauwihah.

Kelompok Abu Sayyaf yang berkekuatan 300 pejuang didirikan pada awal 1990-an oleh kelompok Islam garis keras.
(Uu.H-AK/M016)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar