Dua aktivis tewas dalam bentrokan dengan polisi di Yaman
Senin, 6 Februari 2012 01:42 WIB | 1947 Views
Ilustrasi unjuk rasa yang dilakukan para demostran tuntut Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh mundur (FOTO ANTARA/REUTERS/Khaled Abdullah/ox/11.)
Berita Terkait
Aden (ANTARA News) - Dua aktivis selatan tewas dan tujuh orang cedera dalam bentrokan dengan polisi di provinsi Hadramut, Yaman, Minggu, kata sejumlah aktivis.
Menurut mereka, bentrokan terjadi di kota Mukalla ketika pasukan keamanan campur tangan untuk mengosongkan sebuah kantor polisi yang diduduki oleh aktivis yang menentang pemilihan presiden pada 21 Februari, lapor AFP.
Pasukan menguasai lagi kantor polisi itu setelah aktivis membebaskan rekan-rekan mereka yang ditahan, kata satu sumber kepolisian.
Bentrokan itu mengakibatkan satu aktivis tewas dan delapan orang cedera, kata sumber itu. Beberapa aktivis menyatakan, salah seorang korban cedera tewas kemudian di rumah sakit.
Jumat malam, bentrokan antara pendukung dan penentang pemilihan presiden mencederai puluhan orang di Aden, kota utama di Yaman selatan.
Kekerasan meletus ketika pendukung kelompok separatis Gerakan Selatan menyerang pawai yang diadakan kubu yang bersaing dalam gerakan protes setahun menentang Presiden Ali Abdullah Saleh, kata seorang aktivis.
Sejumlah kelompok gerakan itu berkampanye untuk memboikot pemilihan tersebut, yang kata mereka tidak memenuhi aspirasi mereka bagi otonomi atau kemerdekaan wilayah selatan.
Wakil Saleh, Abdrabuh Mansur Hadi, adalah satu-satunya calon dalam pemilihan presiden yang akan menggantikan Saleh, yang mengundurkan diri setelah berkuasa selama lebih dari tiga dasawarsa.
Yaman dilanda pergolakan yang menewaskan ratusan orang sejak demonstran menuntut pengunduran diri Presiden Ali Abdullah Saleh pada akhir Januari 2011.
Saleh (69), yang memerintah Yaman selama 33 tahun, menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan yang ditengahi oleh negara-negara Teluk di Riyadh pada 23 November, yang menetapkan ia menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya meski ia tetap menjadi presiden kehormatan sampai Februari.
Prakarsa Dewan Kerja Sama Teluk yang bertujuan mengakhiri protes berbulan-bulan itu menetapkan Saleh mengundurkan diri dengan imbalan kekebalan dari tuntutan hukum bagi dirinya dan anggota-anggota keluarganya.
Pada 7 Desember, Wakil Presiden Yaman Abdrabuh Mansur Hadi mengeluarkan sebuah dekrit yang mensahkan pembentukan pemerintah persatuan nasional yang disepakati sesuai dengan perjanjian penengahan Teluk.
Pemerintah baru yang dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammed Basindawa akan menjalankan tugas selama tiga bulan, dan setelah itu pemilihan umum dilaksanakan dan Hadi akan secara resmi mengambil alih tugas presiden.
Pemerintah AS dikabarkan mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara.
Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan ia harus meninggalkan kursi presiden.
Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaida akan menimbulkan "ancaman nyata" bagi AS.
Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.
Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.
Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaida di Semenanjung Arab (AQAP).
Negara-negara Barat dan Arab Saudi, tetangga Yaman, khawatir negara itu akan gagal dan Al-Qaida memanfaatkan kekacauan yang terjadi untuk memperkuat cengkeraman mereka di negara Arab miskin itu dan mengubahnya menjadi tempat peluncuran untuk serangan-serangan lebih lanjut. (M014) Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com