PM Israel kecam perjanjian Fatah-Hamas
Senin, 6 Februari 2012 23:59 WIB | 2314 Views
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu ( FOTO ANTARA/REUTERS/Kevin Lamarque)
Berita Terkait
Yerusalem (ANTARA News) - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkaan, Presiden Palestina Mahmud Abbas memilih "meninggalkan jalur perdamaian" jika ia melaksanakan perjanjian rekonsiliasi dengan Hamas yang ditandatangani Senin.
Netanyahu menyampaikan peringatan itu tak lama setelah Abbas dan pemimpin Hamas Khaled Meshaal menandatangani perjanjian itu di Qatar, yang menetapkan presiden Palestina tersebut sebagai kepala pemerintah sementara yang akan mempersiapkan pemilihan umum tahun ini, lapor AFP.
"Jika Abu Mazen (Abbas) melaksanakan apa yang ditandangani di
Doha, ia memilih meninggalkan jalur perdamaian dan menyatukan dirinya
dengan Hamas," kata Netanyahu pada pertemuan para menteri partai Likud
kubunya.
Perjanjian Doha itu dicapai ketika kelompok-kelompok yang
bersaing, Hamas dan Fatah, berusaha melaksanakan sebuah perjanjian
rekonsiliasi yang ditandatangani pada Mei yang menetapkan pembentukan
pemerintah sementara dan pemilihan umum dalam waktu setahun.
Israel mempertegas sikapnya menentang perjanjian itu dengan
memperingatkan, Abbas tidak bisa rujuk dengan gerakan Hamas yang
menguasai Gaza sambil melakukan perundingan dengan Israel.
"Saya telah mengatakan beberapa kali di masa silam bahwa
pemerintah Palestina (yang dipimpin Abbas) harus memilih antara
persekutuan dengan Hamas atau perdamaian dengan Israel. Hamas dan
perdamaian tidak akan bisa bersama-sama," kata Netanyahu, Senin.
Hamas dan Fatah menandatangani sebuah perjanjian rekonsiliasi
antara kedua pihak pada Mei 2011 namun hingga kini belum
melaksanakannya.
Perjanjian itu menetapkan pembentukan pemerintah sementara dari
kalangan independen yang akan mempersiapkan pemilihan umum dalam waktu
setahun.
Namun, perjanjian itu tidak pernah dilaksanakan dan kedua pihak
mempermasalahkan susunan pemerintah sementara dan siapa yang akan
memimpinnya.
Kubu Abbas yang berkuasa di Tepi Barat mengusulkan pemilu pada Januari untuk mengatasi masalah itu.
Terakhir kali rakyat Palestina memberikan suara adalah dalam
pemilihan umum parlemen pada 2006, dimana Hamas mencapai kemenangan
besar.
Pemilu parlemen dan presiden telah dijadwalkan berlangsung pada
Januari 2010 namun Pemerintah Palestina tidak melaksanakannya setelah
Hamas menolak menyelenggarakan pemungutan suara di Gaza.
Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah
mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmud
Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.
Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel.
Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah -- Jalur Gaza yang
dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.
Kini kedua kubu tersebut telah melakukan rekonsiliasi.
Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.
Jalur Gaza, kawasan pesisir yang padat penduduk, diblokade oleh Israel dan Mesir setelah Hamas berkuasa empat tahun lalu.
Israel menggempur habis-habisan Jalur Gaza dua tahun lalu dengan
dalih untuk menghentikan penembakan roket yang hampir setiap hari ke
wilayah negara Yahudi tersebut.
Operasi "Cast Lead" Israel itu, yang menewaskan lebih dari 1.400
orang Palestina yang mencakup ratusan warga sipil dan menghancurkan
sejumlah besar daerah di jalur pesisir tersebut, diklaim bertujuan
mengakhiri penembakan roket dari Gaza. Tiga-belas warga Israel, sepuluh
dari mereka prajurit, tewas selama perang itu.
Proses perdamaian Timur Tengah macet sejak konflik itu, dan Jalur
Gaza yang dikuasai Hamas masih tetap diblokade oleh Israel. (M014) Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com