Bandara Ngurah Rai direnovasi, penyelundup narkoba mengintip
Selasa, 7 Februari 2012 12:38 WIB | 2063 Views
Bisa saja penyelundup narkoba dan jaringannya memanfaatkan kelengahan sistem dan petugas pengamanan Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, di Tuban, Bali. Renovasi besar-besaran sedang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas bandar udara internasional itu, sementara operasionalisasi bandar udara tetap dilaksanakan laiknya keadaan normal.
(FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana)
... Jangan sampai sindikat narkoba itu mempelajarinya sebagai aspek kelemahan Bandara Ngurah Rai sehingga bisa leluasa menyelundupkan narkoba dengan berbagai modus operandi yang digunakan...
Berita Terkait
Denpasar (ANTARA News) - Ini sisi buruk dari pelaksanaan renovasi Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, di Tuban, Bali. Penyelundup narkoba dan jaringannya bisa memanfaatkan "kekacauan" keadaan untuk berbisnis barang haram itu.
Kepala Badan Narkotika Provinsi (BNP) Bali, Gusti Ketut Budiarta, di Bali, Selasa, mengatakan, "Pindah-pindah jalur lalu-lalang manusia untuk penerbangan ini cukup rawan, masuknya tidak karuan lewat mana. Terlebih kalau menggunakan penerbangan yang terkoneksi atau dengan kata lain tidak langsung dari luar negeri."
Jadi, sistem dan mekanisme pengawasan di dalam lingkungan bandar udara terbesar di luar Pulau Jawa itu (nanti) harus ditingkatkan habis-habisan. Ini jika tidak ingin membiarkan Bali menjadi terminal penyelundupan narkoba, baik pada skala setempat apalagi internasional.
"Banyak modus untuk menyelundupkan, bisa turun di kedatangan internasional lalu menyeberang ke kedatangan domestik. Sangat mungkin, apalagi di kedatangan domestik kami tidak mempunyai alat maksimal," ucapnya.
Menurut dia, dengan renovasi bandara, harus disiapkan berbagai langkah antisipasi. Jangan sampai sindikat narkoba itu mempelajarinya sebagai aspek kelemahan Bandara Ngurah Rai sehingga bisa leluasa menyelundupkan narkoba dengan berbagai modus operandi yang digunakan.
"Apalagi sekarang modus operandi sudah semakin canggih. Yang harus disiapkan tentu saja dari sisi sumber daya manusia, peralatan, taktik dan teknik yang lebih baik," ujarnya.
Budiarta menyebut, peralatan deteksi narkoba yang ada di bandara sekarang belum berfungsi maksimal. Yang paling dibutuhkan, entry body scan -- alat deteksi yang bisa menembus tubuh manusia jika membawa narkoba dengan cara ditelan.
"Sebelum alat itu ada, tentunya kami harus memaksimalkan alat yang ada. Selain kami juga bekerja sama dengan bea cukai dan kepolisian untuk bisa melihat jalur-jalur tikus yang dijadikan celah penyelundupan," katanya.
Selama ini, lanjut dia, untuk deteksi penyelundup, petugas di BNN harus jeli-jeli melihat gelagat penumpang yang mencurigakan. Dari sana kemudian didalami dan digiring ke tempat pemeriksaan.
"Saya mengharapkan, terkait dengan perluasan bandara, jangan hanya melihat wisatawan itu wah tetapi tidak tahu ada kerawanan di dalamnya. Terutama bagi kelangsungan generasi muda Bali yang dijadikan pasar peredaran narkoba," ujarnya.
Ia menambahkan, untuk kasus penyelundupan narkoba lewat Bandara Ngurah Rai, dari 2009 hingga Oktober 2011 tercatat ada 32 kasus. Bahkan satu kasus ada pelakunya lebih dari tujuh orang yang semuanya orang asing. (ANT)
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com