Banjarmasin (ANTARA News) - Mantan Pemimpin Umum Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA, Parni Hadi meminta, wartawan Indonesia lebih mengedepankan nasionalisme daripada jurnalisme.

"Memang lebih baiknya profesionalisme wartawan Indonesia memiliki nasionalisme dan jurnalisme," tandasnya saat dialog interaktif di RRI Banjarmasin, sebelum kembali ke Jakarta, Rabu pagi.

Dialog interaktif dengan tajuk "Refleksi Pers Nasional" dan dalam rangkaian menyambut Hari Pers Nasional 2012, yang secara nasional dipusatkan di Jambi, 9 Ferbruari (besok).

Dalam dialog interaktif tersebut selaku nara sumber, selain Parni Hadi, sebagai salah seorang tokoh pers nasional, juga Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Suharyono, Pemimpin Umum Banjarmasin Post Group H Gusti Rusdi Effendi dan Karo ANTARA Kalsel Abdul Hakim.

Mantan Direktur Utara RRI itu, mengungkap dan mencontohkan wartawan Indonesia sebelum Tahun 1946 atau berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Pada masa perjuangan merebut dan menegakkan kemerdekaan, wartawan Indonesia kala itu lebih mengedepankan nasionalisme, namun tetap melakukan jurnalisme.

"Sebagai contoh Bung Karno (Soekarno) dan Bung Tomo (Soetomo) sebagai tokoh pergerakan nasional, juga seorang wartawan. Namun beliau-belum tersebut ketika itu lebih mengedepankan nasionalisme," ungkapnya.

Manurut Parni yang mengaku sudah 40 tahun menggeluti dunia jurnalistik itu, nasionalisme tersebut bagi seorang wartawan Indonesia, penting, terlebih lagi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam kaitan menjaga keutuhan NKRI atau stabilitas nasional, pendiri surat kabar harian umum REPUBLIKA itu, mengajak wartawan, memasyarakatkan melek informasi.

"Pengertian hakiki melek informasi tersebut, antara lain agar masyarakat yang membaca koran atau mendengar/melihat berita-berita dari media elektronik, jangan langsung menelan mentah-mentah, tapi menganalisa terlebih dahulu," demikian Parni.

Sementara Kapolresta Banjarmasin menyatakan, informasi sangat penting bagi jajaran kepolisian dalam melaksanakan tugas dan fungsi, baik selaku penegak hukum maupun pengayom masyarakat.

"Dari informasi tersebut, kami bisa berbuat maksimal dalam melaksanakan tugas dan fungsi," ujar Suharyono yang baru 26 hari menjadi Kapolresta Banjarmasin.

Sebagai contoh dari arti penting informasi tersebut, dalam sebulan terakhir Polresta Banjarmasin mencopot lima orang dari keanggotan kepolisian, demikian Suharyono.

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar