Presiden ajak pengusaha Tionghoa tingkatkan CSR
Rabu, 8 Februari 2012 21:02 WIB | 2471 Views
Cap Go Meh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan sambutan pada acara Perayaan Cap Go Meh Bersama ke-5 2563 tahun 2012 di PRJ, Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/2) malam. Perayaan Cap Go Meh Bersama ke-5 tahun 2012 ini mengambil tema "Sejahteralah Indonesiaku". (FOTO ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta masyarakat Tionghoa yang bergerak di dunia usaha untuk mewujudkan kepedulian kepada sesama warga bangsa dengan meningkatkan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Dalam sambutannya pada perayaan bersama Cap Go Meh 2012 di Hall D2 Jakarta International Expo, Kemayoran, Rabu malam, Presiden menyatakan Indonesia memerlukan kesetiakawanan dan persaudaraan yang tinggi dari segala jenis etnis dan golongan.
"Yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah," ujarnya.
Presiden juga mengajak kaum Tionghoa yang bergerak di dunia usaha untuk menyinergikan usaha mereka dengan agenda besar pemerintah guna mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi yang menyejahterakan masyarakat.
"Saya sungguh bersyukur lebih dari satu dasa warsa ini komitmen etnis Tionghoa di seluruh tanah air tidak diragukan lagi. Etnis Tionghoa bersama-sama segenap anak bangsa terus meningkatkan dukungan, peran, dan inisiatifnya dalam mempercepat pencapaian kehidupan rakyat Indonesia yang sejahtera, berdaya saing, dan berakhlak mulia," tuturnya.
Kepala Negara yang hadir didampingi Ani Yudhoyono pada perayaan ke-5 Cap Go Meh Nasional itu juga menyampaikan harapannya agar kaum Tionghoa Indonesai bisa lebih berperan aktif dalam proses pembangunan di masa datang karena saat ini tidak ada lagi sekat dan penghalang bagi kaum Tionghoa untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara.
"Masyarakat Tionghoa adalah bagian integral dari segenap warga bangsa Indonesia di seluruh tanah air," ujarnya.
Presiden dalam pidatonya kembali mengingatkan bahwa semua warga negara temasuk masyarakat Tionghoa mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara Republik Indonesia.
Indonesia, lanjut dia, tidak lagi mengenal istilah pribumi dan non-pribumi atau warga asli dan keturunan.
"Saat ini bukan waktunya lagi kita membeda-bedakan asal usul keturunan. Bukan saatnya lagi kita membedakan seseorang berdasarkan kelompok etnisnya," katanya.
Menurut Presiden, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membangun semangat kesetaraan antara semua warga bangsa agar membaur menjadi bangsa yang besar.
Sementara itu, Ketua Pembina Forum Bersama Indonesia Tionghoa (FBIT) Murdaya Po juga mengajak kaum Tionghoa untuk berpartisipasi aktif dalam kebijakan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) di enam koridor di seluruh wilayah Indonesia.
"Kita suku Tionghoa harus menyadari bahwa pembangunan suatu negara yang besar seperti Indonesia tidak dapat mengharapkan sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah saja," katanya.
Karena itu, Murdaya meminta masyarakat Tionghoa sebagai pelaku ekonomi swasta dari tingkat usaha kecil menengah sampai usaha swasta domestik dan multinasional untuk mendukung program pembangunan pemerintah.
(T.D013)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com