Rabu, 1 Oktober 2014

Ban Ki-moon: situasi Sudan selatan makin berbahaya

Kamis, 9 Februari 2012 14:15 WIB | 3.270 Views
Ban Ki-moon: situasi Sudan selatan makin berbahaya
Sekjen PBB Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon (FOTO ANTARA/Nyoman Budhiana)
Situasi di Sudan dan Sudan Selatan semakin kompleks dan berbahaya.
PBB (ANTARA News/Xinhua-OANA) - Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, Rabu (8/2), menyatakan kekhawatirannya tentang ketegangan politik yang semakin merebak di Sudan dan Sudan Selatan.

"Situasi di Sudan dan Sudan Selatan semakin kompleks dan berbahaya," katanya.

Pernyataan Ban menyatakan hal tersebut di hadapan wartawan setelah melakukan pertemuan tertutup dengan Dewan Keamanan PBB.

Sudan Selatan baru-baru ini mengalami kekerasan antarkelompok etnis di negara bagian Jonglei yang memiliki riwayat perebutan ternak dan sumber daya.

Ban mengatakan bahwa saat ini PBB, sedang memantau ketegangan tersebut dengan "penuh keprihatinan".

"Tim misi di lapangan akan terus melakukan tugasnya tapi saya akan meminta lagi kepada masyarakat internasional untuk memberikan dukungan yang kita butuhkan, terutama helikopter dan transportasi," katanya.

Terkait dengan topik kemajuan politik di negara itu, Ban mengatakan bahwa "masalah kepercayaan" antara Sudan dan Sudan Selatan menghambat pengiriman bantuan kepada banyak orang yang mengalami rawan pangan atau melarikan diri konflik.

"Saya juga sangat prihatin terhadap kurangnya kemajuan dalam negosiasi pada isu-isu pasca kemerdekaan," kata Ban. "Keputusan sepihak oleh kedua pemerintah atas sengketa minyak dan retorika yang semakin bermusuhan dengan mudah dapat meningkat secara militer."

Sudan Selatan secara resmi memisahkan diri dari Khartoum pada bulan Juli 2011, setelah diadakannya referendum kemerdekaan yang diamanatkan oleh Perjanjian Perdamaian Menyeluruh (CPA), yang ditandatangani untuk mengakhiri perang saudara antara utara dan selatan pada tahun 2005. Namun, beberapa masalah seriusmasih ada di antara kedua negara, termasuk masalah minyak dan perbatasan.

Kedua pihak dijadwalkan untuk melanjutkan pembicaraan pada 10 Februari.

"Saya menyerukan pada semua pihak untuk berkomitmen kembali demi negosiasi sehingga dapat mencapai kesepakatan atas semua masalah yang beredar," kata Ban.

"Saatnya telah tiba bagi kedua kepala negara untuk sekali lagi menampilkan kepemimpinan mereka yang membawa ke arah perdamaian dengan menyetujui gencatan senjata dan membuat kompromi yang diperlukan yang akan menjamin masa depan yang damai dan sejahtera bagi kedua negara," demikian Ki-moon.

(I027)

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012

Komentar Pembaca
Baca Juga