Jakarta (ANTARA News) - Ekonom asal Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani menilai program kredit yang diperuntukkan bagi sektor pertanian tidak terjangkau oleh para petani, begitupun dengan bunga bank yang besar.

"Program kredit untuk sektor pertanian tidak bisa diakses oleh para petani karena skala ekonomi mereka rendah dan bunganya pun besar," kata Aviliani dalam acara Seminar Nasional bertajuk "Tantangan Kondisi Politik, Ekonomi dan Hukum bagi pembangunan yang Inklusif dan Berkesinambungan" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Kamis (9/2).

Menurut Aviliani, para petani tersebut hanya mampu membayar cicilan sebesar delapan persen, sedangkan bunga bank sudah mencapai 12 persen.

"Oleh karena itu, harus ada subsidi bunga kredit untuk mereka (petani)," kata Aviliani.

Selama ini, lanjut Aviliani, sebagian besar pengajuan kredit yang dilakukan oleh petani ditolak oleh pihak bank.

"Akhirnya, para petani pun berpaling ke rentenir agar cepat diproses dan cepat mendapatkan kredit," kata Aviliani.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Aviliani menambahkan, penyaluran dana kredit untuk sektor pertanian adalah Rp90,88 triliun atau 4,23 persen dari total keseluruhan kredit nasional, yaitu Rp2.150 triliun per November 2011. (R027/S006)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar