Jakarta, 10/2 (ANTARA) - Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono meminta kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memanfaatkan setiap jengkal tanah dan wilayah perairan agar digunakan secara maksimal dalam menciptakan ketahanan pangan. Saat mengunjungi kawasan minapolitan dan panen ikan patin di Desa Pudak Kabupaten Muara Jambi, Provinsi Jambi hari ini (10/2), Presiden Yudhoyono meminta agar pemanfaatan lahan dan wilayah perairan untuk menciptakan ketahanan pangan tersebut dijadikan gerakan nasional. "Melalui gerakan ini, maka meskipun harga pangan naik namun setiap rumah tangga di Indonesia tetap memiliki kecukupan pangan", ujar Presiden.

     "Saya sudah menikmati olahan dan masakan ikan patin, ada rengginang, ada krupuk dan semuanya joss, semuanya enak, serta yang pasti menyehatkan", kata Yudhoyono. Ia juga meminta kepada seluruh perangkat pemerintah dari Menteri Kelautan dan Perikanan hingga pemerintah desa agar dapat terus memberikan perhatian, membantu dan membina masyarakat agar program ini dapat berjalan di seluruh Indonesia. Yudhoyono menyatakan, budidaya ikan patin di Jambi dapat dijadikan contoh bagi wilayah lainnya agar masyarakat tidak mengalami kesusahan pangan dan kelaparan.

     Menanggapi permintaan presiden tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C. Sutardjo menyatakan, potensi perikanan budidaya di Indonesia saat ini dapat terus ditingkatkan untuk menciptakan ketahanan pangan di Indonesia mengingat pemanfaatan lahan budidaya masih relatif kecil. "Pemanfaatan lahan budidaya air tawar saat ini baru mencapai 10,01%, air payau 40%, dan bahkan budidaya laut hanya mencapai 0,01%, ini berarti perikanan budidaya sangat besar potensinya", ungkap Sharif. Oleh karena itu agar sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi roda penggerak perokonomian nasional, dibutuhkan kerjasama yang baik dengan para antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan para stakeholders untuk mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya tersebut.

     Untuk memenuhi kebutuhan ikan patin dalam negeri dan pasar global, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo meminta kepada pembudidaya patin di Provinsi Jambi agar bekerja lebih keras dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Hal tersebut disampaikan Sharif sehari sebelumnya saat meresmikan Unit Pengolahan Fillet Patin di Kemingking Kabupaten Muaro Jambi. "Untuk menghentikan impor ikan patin atau ikan dori dari vietnam maka produksi patin nasional harus ditingkatkan terlebih dahulu. "Dengan peresmian pengolahan fillet patin, secara strategis akan meningkatkan gairah dan produksi budidaya patin di Indonesia, khususnya Propinsi Jambi karena industri fillet patin dapat dioperasikan secara massal", ungkap Sharif.

     Untuk memberikan kesempatan kepada produk patin lokal dapat berkembang dan berdaya saing di pasar domestik dan global, KKP pada tahun 2011 telah membina dan menyediakan 6 (enam) unit pengolahan fillet patin di Indonesia. Sharif menambahkan, selain di Jambi, 6 unit pengolahan fillet patin lainnya berada di Karawang, Purwakarta, Tulung Agung, Banjar, dan Riau. "Saya berharap unit pengolahan ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat atau kelompok pengolah usaha kecil menengah, sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi produksi budidaya patin", ujar sharif.

     Sebagai sentra produksi patin, Provinsi Jambi sendiri baru terdapat 7.884 kolam ikan patin yang terdiri dari 107 Kelompok. Luas rata-rata kolam mencapai 300 M2 dengan produksi 2,5 ton/kolam dengan waktu pemeliharaan 6-7 bulan ukuran 0,6-0,8 Kg. Dengan demikian produksi Patin di provinsi ini berkisar 5 -8 ton/hari. "Apabila lahan-lahan dan wilayah perairan yang ada dimanfaatkan secara maksimal, maka ke depan kita akan menghentikan impor ikan patin dari Vietnam yang saat ini masih dilakukan khusus untuk memenuhi permintaan hotel restoran dan katering", tutup Sharif.

     Untuk keterangan lebih lanjut, silakan menghubungi Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan (HP. 0811836967)

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar