New York (ANTARA News/AFP) - Bursa saham Wall Street jatuh pada Jumat (Sabtu pagi WIB), karena muncul keraguan baru atas kesepakatan utang Yunani yang hanya dua hari sebelumnya tampaknya mungkin untuk terus maju.

Posisi akhir terburuk dalam lebih dari sebulan, Dow Jones Industrial Average ditutup turun 89,23 poin (0,69 persen) pada 12.801,23.

Indeks S&P 500 berbasis lebih luas turun 9,31 (0,69 persen) menjadi 1.342,64, sementara komposit Nasdaq merosot 23,35 (0,80 persen) menjadi 2.903,88.

Kerugian terjadi saat para pemimpin Eropa menyerukan Athena untuk melakukan pemotongan pengeluaran yang lebih keras, sementara Perdana Menteri Yunani memperingatkan bahwa negara menghadapi "kekacauan tidak terkendali" tanpa sebuah kesepakatan utang.

Sementara itu, penurunan impor dan ekspor China pada Januari, mendstorsi liburan tahun baru Imlek, menambahkan bukti bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia itu melambat karena pelemahan ekonomi Eropa dan AS merugikan permintaan untuk produk-produk China.

Sebuah penurunan tak terduga dalam indeks sentimen konsumen dari University of Michigan setelah beberapa kali berturut-turut naik, juga menimbulkan keraguan tentang kekuatan ekonomi AS.

Semua kecuali satu dari 30 saham unggulan (blue chips) Dow Jones turun, dipimpin oleh penurunan 3,3 persen pada Alcoa, yang sensitif terhadap data pertumbuhan China, dan DuPont turun 1,8 persen.

Hanya satu yang mencetak keuntungan di antara kelompok itu adalah Home Depot yang naik 0,1 persen.

Pembuat panel surya First Solar turun 10,4 persen setelah melaporkan masalah birokrasi yang mengancam rencana untuk membangun sebuah proyek pembangkit listrik tenaga surya senilai 75 juta dolar AS untuk raksasa perusahaan listrik Exelon.

Harga obligasi naik karena dolar melonjak di tengah kekhawatiran baru zona euro.

Imbal hasil pada Treasury 10-tahun turun menjadi 1,97 dari 2,05 persen pada Kamis, sedangkan pada obligasi 30-tahun turun menjadi 3,12 persen dari 3,19 persen.

Harga dan imbal hasil obligasi bergerak dalam arah berlawanan.

(UU.A026)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar