Hujan tak surutkan warga badung gelar "makotekan"
Minggu, 12 Februari 2012 03:05 WIB | 1750 Views
Mengwi, Bali (ANTARA News) - Turunnya hujan tak menyurutkan warga Desa Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung, Bali, untuk menggelar tradisi "mekotekan" yang dipercaya sebagai penolak bala, Sabtu.
Bendesa Adat atau Kepala Desa Adat Munggu, I Ketut Kormi, mengatakan, tradisi makotek yang digelar setiap Hari Raya Kuningan itu merupakan tradisi untuk memperingati kemenangan Kerajaan Mengwi saat perang melawan kerajaan Blambangan, Banyuwangi, zaman dulu.
Tradisi ini disebut makotek lantaran berawal dari suara kayu-kayu yang saling bertabrakan ketika kayu-kayu tersebut disatukan menjadi bentuk gunung yang menyudut ke atas.
"Kayu-kayu yang digabung jadi satu itu kemudian menimbulkan bunyi, dan bunyinya tek tek tek sehingga disebut mekotek. Sebenarnya dulu tradisi ini bernama grebek yang artinya saling dorong," jelasnya.
Dalam tradisinya, perang makotek ini dilakukan oleh sekitar ratusan kaum laki-laki yang berasal dari Desa Munggu. Mereka rata-rata berumur 13 hingga 60 tahun.
Sebelum memulai atraksi ini peserta terlebih dahulu melakukan persembahyangan bersama di pura desa, dan dilengkapi dengan percikan air suci yang diberikan kepada para pemain dan kayuyang dibawa masing-masing pemain.
"Atraksi ini pun ada pantangannya. Peserta yang ikut tidak boleh ada yang keluarganya sedang meninggal, dan istrinya melahirkan," ujarnya.
Dalam permainannya, ratusan kayu dari pohon pulet sepanjang 3,5 meter itu dipegang oleh masing-masing pemain, kemudian para pemain yang terbagi menjadi dua kelompok maising-masing membentuk sebuah lingkaran lalu menggabungkan kayu tersebut hingga membentuk gunungan kerucut.
Salah seorang pemuda yang merasa tertantang pun harus menaiki kayu tersebut hingga berada di ujung dengan posisi berdiri. Kedua kelompok yang memegang kayu tersebut pun kemudian mempertemukan dua pemuda yang berdiri di atas kayu untuk berperang.
Meski cukup berbahaya lantaran banyak pula yang terjatuh dari ujung kayu, namun tradisi ini tetap tampak menyenangkan karena banyaknya orang yang berkali-kali mencoba untuk naik.
Selain itu, tradisi ini juga dipercaya dapat menjauhkan warga dari segala bentuk bencana. Menurut cerita, tradisi tersebut sudah lama ada dan sempat ditiadakan, namun kemudian muncul bencana yang menimpa warga.
Tradisi yang selalu dilakukan pada sore sekitar pukul 15.00 Wita tersebut pun menjadi pusat perhatian warga lainnya, bahkan wisatawan asing, akibatnya warga harus menutup jalan selama beberapa jam ketika tradisi berlangsung.
(T.KR-PWD/M026) Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com