LNG Sempra siap ke pasar domestik
Minggu, 12 Februari 2012 12:38 WIB | 1566 Views
Ilustrasi kilang gas. (ANTARA/Yudhi Mahatma)
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) siap mengalihkan seluruh volume ekspor gas alam cair Tangguh, Papua, ke Sempra, Amerika Serikat (AS), sebanyak 3,7 juta ton per tahun menjadi ke pembeli domestik.
Juru Bicara BP Migas, Gde Pradnyana, di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa prinsipnya harga gas ke domestik mesti lebih baik dibandingkan Sempra, sehingga akan menambah penerimaan negara.
"Kalau memang ada pembeli domestik yang pasti mau membeli dengan harga bagus, kenapa tidak," katanya.
Menurut dia, saat ini, Sempra membeli harga gas Tangguh sekira nilai 7 hingga 9 dolar AS per MMBTU.
Kalau ditambah fee buat Sempra sebesar satu dolar per MMBTU, maka pembeli domestik mesti membayar harga gas Tangguh sekitar 8-10 dolar per MMBTU.
Berbeda dengan ekspor LNG Tangguh ke Fujian, China, harga gas Tangguh ke Sempra mengikuti patokan Henry Hub, tanpa batas atas (ceiling price).
Sesuai kontrak, ekspor LNG Tangguh ke Sempra bisa dialihkan 50 persen dari 3,7 juta ton per tahun atau 1,85 juta ton per tahun ke pembeli lain dengan memberikan fee sekitar satu dolar AS per MMBTU ke perusahaan asal AS tersebut sebagai kompensasi.
BP Migas sejauh ini sudah mengalihkan sebagian ekspor LNG Sempra ke pembeli lain di Jepang, India, dan Thailand.
Di luar klausul kontrak itu, lanjut Gde, dimungkinkan pula pengalihan ekspor LNG Sempra sisanya menyusul penemuan gas batuan dangkal (shale gas) cukup besar di AS.
"Kami sudah ada pembicaraan. Tapi, fokus pertama adalah pengalihan 50 persen volume sesuai kontrak. Di luar itu, kalau kita mau ambil, maka harus izin sama mereka," ujarnya.
Menurut dia, pembeli domestik yang menginginkan gas Tangguh bisa segera menyampaikannya ke BP Migas.
Namun demikian, Gde mengingatkan, agar pembeli domestik juga menjajaki kemungkinan impor LNG sepanjang harga lebih murah dari domestik.
"Harga LNG domestik sekarang 11 dolar AS per MMBTU. Kalau dapat dari impor antara 5-6 dolar per MMBTU, tentunya lebih menguntungkan. Impor bisa dari Qatar atau Australia," ujarnya.
Saat ini, PT Pertamina (Persero) dan PT PGN Tbk diketahui tengah mencari LNG untuk memenuhi kebutuhan terminalnya.
Pertamina untuk terminal terapung di laut utara Jakarta dan laut utara Semarang, serta konversi Kilang LNG Arun, Aceh., sedangkan PGN untuk terminal terapung di Belawan, Medan.
Program pembangunan terminal terapung di Jakarta, Medan, dan Semarang tersebut sudah diamanatkan dalam Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 2011.
Terminal terapung LNG di Jakarta akan dibangun berkapasitas 3 juta ton per tahun, Medan 2,5 juta , dan Semarang 3 juta, sedangkan konversi LNG di Kilang Arun, Aceh direncanakan berkapasitas 2,5 juta ton per tahun.
Namun, hanya terminal Jakarta yang sudah pasti pasokannya yakni berasal dari Kilang Bontang, Kaltim sebesar 1,5 juta ton per tahun.
(T.K007)
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com