Kediri (ANTARA News) - Dua warga Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tewas setelah mengonsumsi minuman keras yang dicampur dengan bahan lain dalam pesta minuman yang digelar di salah satu rumah warga.

Kepala Kepolisian Sektor Plemahan, AKP Hadi Purnomo, Minggu mengemukakan, dua warga yang tewas itu adalah Agus Prasetio (19) dan Heru Kurniawan (20), keduanya warga Dusun Begendul Kulon, Desa Sidowarek, Kecamatan Plemahan.

"Keduanya tewas setelah menggelar pesta tersebut. Perut dan dada mereka sakit, hingga meninggal dunia," katanya.

Ia mengatakan, pesta itu digelar pada Jumat (10/2) di rumah Iwan Agustina (21), yang juga tetangga mereka. Saat itu, mereka dengan sekitar sembilan rekan lainnya menggelar pesta di tempat itu.

Saat itu, kata dia, mereka membawa tiga botol minuman jenis arak jowo. Selain itu, juga diketahui ada bekas suplemen dan bungkus yang biasa digunakan untuk membungkus pil dobel L. Diduga, mereka juga memasukkan obat-obatan ke dalam minuman itu, hingga mereka mabuk.

Setelah pesta di rumah Iwan, mereka pulang ke rumah masing-masing. Namun, sesaat setelah kejadian itu, Heru diketahui sudah sakit. Tubuhnya panas, dadanya juga sakit. Ia meninggal dunia, dan belum sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Namun, kejadian itu sempat diketahui polisi, hingga jenazahnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Kediri untuk dilakukan "visum et repertum". Namun, keluarga menolak, hingga akhirnya jenazah dibawa kembali pulang ke rumah.

Setelah Heri, Agus menyusul.

"Saat itu, keluarga menutupi jika ia sakit setelah pesta minuman keras. Dokter pun tidak tahu. Bau minuman pun juga tidak ada, jadi tidak ada yang curiga," katanya.

Walaupun ditutupi, kata Kapolsek, polisi terus menyelidiki kejadian ini. Pihaknya sudah mengidentifikasi tujuh korban lainnya yang juga ikut pesta.

"Sebagian kondisi para korban ini lemah, namun mereka tidak dibawa ke rumah sakit. Bahkan, sebagian korban lainnya, tidak kami temukan di rumah. Keluarga enggan berterus terang," katanya.

Sementara itu, dua masih menyelimuti keluarga Agus. Kedua orang tuanya, Suliyan (ayah) dan Iyem (ibu) bersedih. Mereka tidak menyangka jika anak pertamanya akan meninggal dunia secepat ini.

Namun, sejumlah keluarga enggan ketika dimintai konfirmasi tentang keseharian korban. Mereka enggan menjawab dan hanya mengatakan tidak begitu mengenal korban.

"Kalau keseharian, tidak begitu tahu. Rumah saya juga jauh dari sini, di Gurah (sekitar 30 km dari Kecamatan Plemahan), jadi tidak begitu tahu. Yang jelas, ia sudah tidak melanjutkan sekolah sejak tamat dari SMP," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dusun Begendul Kulon, Priyo Widodo mengatakan meminta kepada warganya untuk melapor jika ada korban lagi. Ia cukup prihatin, dan berharap hal ini tidak terulang lagi.

"Kami tidak berharap ada kejadian seperti ini lagi. Sebenarnya, di daerah sini tidak banyak pemuda yang kumpul-kumpul di warung, sekedar minum kopi. Namun, dengan kejadian ini, tentunya menjadi perhatian, agar tidak terulang lagi," kata Widodo.

(ANTARA)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar