Saya cuma mengantarkan
Senin, 13 Februari 2012 20:47 WIB | 2220 Views
Boeing 737-800 Business Jet 2 seperti inilah yang digadang-gadang jadi pesawat terbang kepresidenan Indonesia nanti. Harga dalam varian standar 58,6 juta dollar Amerika Serikat, yang akan bisa berlipat ganda jika dijadikan pesawat kepresidenan. Tambahan meliputi peningkatan kualitas interior (27 juta dolar Amerika Serikat) dan 4,5 juta dollar AS untuk sistem keamanan dengan target selesai pada Agustus 2013. (FOTO ANTARA/Widodo S Jusuf)
... Saya cuma mengantarkan...
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Istana Kepresidenan berencana membeli pesawat kepresidenan. "Saya cuma mengantarkan, saya berharap semuanya lancar sesuai rencana," kata Presiden Susilo Yudhoyono, di Istana Kepresidenan, di Jakarta, Senin malam.
Malam itu Yudhoyono berjawab dengan puluhan jurnalis dalam dan luar negeri yang bertugas di Istana Kepresidenan. Macam-macam yang ditanya jurnalis secara langsung kepada Yudhoyono, mulai dari pilkada Aceh, Nazaruddin, Bank Century, pemberantasan korupsi, dan lain-lain.
Semua dijawab Yudhoyono yang tampil memakai batik hitam, secara lancar sebagaimana biasanya termasuk beberapa kali selipan kata-kata dalam bahasa Inggris.
Tentang pesawat kepresidenan, pemerintah melalui Sekretariat Negara, telah menegaskan bahwa Boeing B-737 800 Bussiness Jet 2 yang jadi "pemenang". Pesawat buatan pabrik Boeing di Everett, Georgia, Amerika Serikat, bermesin dua dengan interior yang sangat baik dan performansi mesin mengagumkan.
"Saya sering menghadiri pertemuan internasional dan bertemu dengan world leaders. Presiden-presiden itu datang dengan pesawat kepresidenannya. Mungkin untuk kepentingan lokal di negaranya mereka memakai pesawat terbang kepresidenan yang lebih kecil," katanya.
"Dengan menyewa Garuda ongkos sewa lebih mahal belum lagi bisa mengganggu jadual Garuda. Jadi untuk efisiensi jangka menengah dan panjang, ada ide mengadakan pesawat terbang sendiri," kata Yudhoyono.
Sebagai ilustrasi, diperlukan waktu antara 10 dan 14 hari untuk mengubah interior, tata letak, dan menambah beberapa sistem komunikasi, keamanan, dan keselamatan pada skala tertinggi saban satu pesawat badan lebar Garuda Indonesia disewa Sekretariat Negara.
Untuk mengembalikan ke kondisi awal, maka diperlukan waktu sedikit lebih cepat. Sejak awal mengubah, masa pemakaian, hingga mengembalikan ke kondisi awal itulah pesawat Garuda Indonesia itu dalam status disewa Sekretariat Negara.
Proses melibatkan ahli pesawat terbang, katanya, dan disesuaikan untuk ukuran Indonesia. Yang terakhir ini mungkin yang dimaksud adalah kondisi dan sistem pendukung bandar-bandar udara di Tanah Air yang tidak seragam.
Yang jelas, dia memastikan proses pengadaan pesawat terbang kepresidenan itu transparan. Sekretaris Negara juga mengundang lembaga pengadaan jasa dan barang, untuk menunjukkan jangan sampai ada hal yang tidak benar.
"Saya tahu baru akan 2013, yang memakai presiden sesudah saya, bisa tetap memberi perintah. Saya hanya mengantarkan saya berharap semua berjalan sesuai rencana," katanya. Bisa jadi begitu, karena pesawat terbang kepresidenan Indonesia itu baru benar-benar operasional pada pertengahan 2013, jika semuanya lancar. (ANT)
Editor: Ade Marboen
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com