Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjawab sejumlah pertanyaan pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/2) malam. Kepala Negara menjawab dan menanggapi sejumlah pertanyaan dari pers soal isu-isu terkini . (ANTARA/Widodo S. Jusuf/nz/12. )

Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Pemerintah Indonesia terus menjaga rasio utang dengan gross domestic product (GDP) sehingga tidak membebani perekonomian nasional.

"Tahun-tahun ini saya membatasi utang, jangan mudah erhutang, tawaran kredit eksport, saya minta untuk dihentikan untuk yang tidak perlu," kata Presiden saat bertemu dan berdialog dengan wartawan di Istana Negara Jakarta, Senin, malam.

Kepala Negara mengatakan dari sisi jumlah utang Indonesia pada 2011 memang meningkat dibandingkan tahun 2004, namun demikian bila dibandingkan dengan pendapatan nasional maka rasio utang menurun.

"Pada 2004 jumlah utang Rp1.299 hingga Rp1.300 triliun, jumlah rasio utang atas GDP 56,6 persen itu potret 2004. Tujuh tahun kemudian memang ada pembangunan yang memerlukan pinjaman, pada 2011 utang kita Rp1,800 triliun, naik Rp500 triliun, GDP Rp7,226 triliun, sehingga depth to GDP turun menjadi 25 persen," kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan dari sisi komposisi asal utang Indonesia pun berubah pada 2011 dibandingkan 2004.

Menurut Presiden, pada 2004 utang yang berasal dari pinjaman luar negeri mencapai 50 persen lebih sementara pada 2011 yang berasal dari pinjaman luar negeri turun menjadi 32 persen.

Presiden menyatakan pemerintah terus bekerja dan berkomitmen untuk terus menurunkan pinjaman atau anggaran pembangunan yang berasal dari pinjaman luar negeri.

"Semua bisa dipertanggungjawabkan, efesian atau tidak silahkan BPK dan BPKP audit, kita ingin bangun dan kembangkan APBN yang sehat," kata Presiden.

Acara tersebut dihadiri oleh seluruh menteri anggota kabinet Indonesia Bersatu II dan Wapres Boediono.
(P008*D013*G003)



Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar