Pengamat: BI memilih untuk lebih konservatif
Senin, 13 Februari 2012 21:58 WIB | 1478 Views
Jakarta (ANTARA News) - Kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), enam persen ke 5,75 persen, pada Kamis (9/2), akibat penurunan inflasi mengindikasikan sikap BI yang konservatif, demikian disampaikan Pengamat Ekonomi ANZ untuk Asia Tenggara, Aninda Mitra, dalam siaran pers yang diterima ANTARA News, Senin (13/2)
"(Penurunan suku bunga) ini cukup mengejutkan bagi sebagian besar analis, termasuk ANZ," kata Aninda.
Keterkejutan itu, menurut Aninda, muncul terutama ketika BI memotong suku bunga pada kuartal ke-empat 2011 sebesar 75 bps.
"Tampaknya penurunan suku bunga ini untuk mempertahankan target pertumbunan ekonomi pemerintah yang berkisar 6,3 persen sampai 6,7 persen," kata Aninda.
Namun demikian, Aninda menambahkan fokus pergerakan suku bunga BI perlu mendukung pertumbuhan agar tidak terjadi inflasi jangka panjang.
"Mengingat kinerja perekonomian yang tumbuh dengan kuat dapat meningkatkan risiko inflasi jangka panjang, kami harap BI dapat menahan suku bunga hingga akhir tahun," kata Aninda.
Sebelumnya, Kepala Biro Humas BI, Difi A Johansyah, mengatakan penurunan suku bunga BI dilatarbelakangi perekonomian Indonesia yang masih kuat meski pertumbuhannya lambat.
"Triwulan I-2012, pertumbuhan ekonomi diprediksi 6,5 persen. Secara keseluruhan, pada 2012, pertumbuhan ekonomi cenderung menyentuh batas bawah 6,3 persen," kata Difi.
(I026)
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com