Babel sosialisasikan SIG lada ke pasar internasional
Selasa, 14 Februari 2012 09:15 WIB | 1193 Views
Lada Babel memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh daerah atau negara lain, yaitu memiliki cita rasa pedas yang sangat khas dan aromanya, sehingga dengan adanya jaminan dan garansi lewat hak paten ini bisa meningkatkan kepercayaan importir.
Berita Terkait
Pangkalpinang (ANTARA News) - Badan Pengelolaan, Pengembangan dan Pemasaran Lada (BP3L) Provinsi Bangka Belitung (Babel), pada Maret 2012 akan menyosialisasikan Sertifikat Indikasi Geografis (SIG) lada putih ke pasar internasional untuk memberikan jaminan keamanan dan kwalitas komoditas tersebut.
"Dalam waktu dekat ini, kami akan menyosialisasikan SIG lada putih Babel atau `Muntok White Pepper` ke Pasar Eropa, Amerika Serikat, Jerman, Spanyol, Belanda, Belgia, Jepang dan pasar dunia lainnya," ujar Wakil Ketua BP3L Babel, Syamsumi Saleh, di Pangkalpinang, Selasa.
Ia menjelaskan, kegiatan sosialisasi ini seiring menurunnya hasil perkebunan lada petani, sehingga disinyalir daerah atau negara penghasil lada lainnya mengunakan label lada Babel untuk memasarkan hasil perkebunan lada mereka di pasar internasional.
"Lada Babel memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh daerah atau negara lain, yaitu memiliki cita rasa pedas yang sangat khas dan aromanya, sehingga dengan adanya jaminan dan garansi lewat hak paten ini bisa meningkatkan kepercayaan importir," ujarnya.
Ia mengatakan, lada Babel mendapat SIG dari Kementerian Pertanian pada 28 April 2010 dan penerbitan SIG berdasarkan Undang-undang Nomor 19 Tahun 1992 tentang Merek junto Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 tahun 2007 Tentang Indikasi Geografis.
"Produk lada Babel akan diberi label SIG, sebagai perlindungan, garansi atau jaminan dalam menjaga produk lada putih yang akan masuk dalam pasar ekspor dunia, sehingga kepercayaan pasar internasional terhadap produk lada Babel semakin tinggi," ujarnya.
Menurut dia, hasil lada Babel mengalami penurunan untuk memenuhi permintaan pasar internasional sehingga membuka peluang bagi importir lada dari negara lainnya untuk mencampurkan lada mereka dengan lada Babel untuk menarik pangsa pasar.
"Kami menerima beberapa laporan, ada indikasi lada Babel yang dipasarkan di Eropa bukan hasil perkebunan petani lada Babel, sehingga beberapa negara konsumen tersebut melakukan penelitian langsung ke Babel, terkait menurunnya produk aroma dan cita rasa lada tersebut," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, produksi lada memang mengalami penurunan, namun jika aroma dan cita rasa lada Babel tetap terjaga dan tidak mengalami penurunan.
"Permintaan pasar mencapai 80 ribu hingga 90 ribu ton per tahun, namun produksi pertanian lada hanya berkisar enam ribu hingga tujuh ribu ton per tahun," ujarnya.
Menurut dia, produksi perkebunan lada menurun karena luas areal perkebunan lada juga mengalami penurunan yang cukup drastis.
"Saat ini, luas perkebunan lada terus berkurang karena pembukaan lahan pertambangan timah dan perkebunan sawit dalam skala besar," ujarnya.
Ia mengatakan, selama 10 tahun terakhir, kontribusi lada Indonesia di pasar dunia semakin menurun, misalnya, ekspor lada 2008 hanya 5.109,50 ton atau terjadi penurunan sekitar 85,1 persen jika dibandingkan ekspor pada selama periode 2000 hingga 2008.
"Permintaan pasar internasional dan pasar dalam negeri terhadap lada Babel cukup tinggi, sehingga kami sulit memenuhi permintaan pasar tersebut," ujarnya.
(KR-WRA/I013) Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com