Singapura (ANTARA News) - Maskapai penerbangan Lion Air memastikan pemesanan 230 pesawat produksi Boeing Amerika Serikat senilai 22,4 miliar dolar AS.

"Tanda tangan hari ini (Selasa) dengan Boeing adalah memastikan komitmen pembelian atas 201 B 737 MAX dan 29 B 737-900ER, termasuk 150 pesawat opsi tambahan," kata Presiden Direktur Lion, Rusdi Kirana, kepada pers usai menandatangani komitmen dengan Wakil Presiden Penjualan Asia Pasifik dan India Boeing Company, Dinesh Keskar, Selasa disela Singapura Air Show.

Kepastian pemesanan tersebut, sebelumnya diawali dengan nota kesepahaman dengan Boeing pada November tahun lalu di Bali Indonesia dan disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Pengiriman 230 pesawat tersebut akan dilakukan mulai 2017 hingga 2026 sehingga ditambah dengan pesanan 178 pesawat B737-900ER sebelumnya, maka totalnya menjadi 408 pesawat.

Rusdi yang juga pendiri Lion menjelaskan, pendanaan untuk pengadaan pesawat tersebut, sepenuhnya didukung oleh sejumlah bank internasional, seperti Bank Exim AS dan sejumlah banks swasta lainnya di Eropa.

"Enam puluh persen, Bank Exim sisanya bank swasta lainnya di Eropa," katanya.

Rusdi menjelaskan, seluruh pesawat itu dalam beberapa tahun ke depan, akan difokuskan untuk domestik dan sejumlah rute baru di regional.

"Total 408 pesawat untuk pasar domestik dan regional, ketika liberalisasi Asean dibuka 2015, tak akan cukup," katanya.

Untuk itu, pihaknya sudah menyiapkan sejumlah rencana strategis dalam beberapa tahun ke depan seperti pembukaan sejumlah daerah sebagai pengumpul (hub).

"Kita akan buka Batam sebagai hub akhir tahun ini dan tahun depan, kemudian 2013 Manado untuk Asia Pasifik," katanya.

Batam, lanjut Rusdi, diproyeksi akan menjadi penghubung untuk Indonesia bagian barat. "Sedangkan untuk Manado diproyeksikan untuk Asia Pasifik," katanya.

Jadi, tegasnya, nantinya akan ada sejumlah rute baru ke Asia Pasifik seperti negara-negara Asean, China bagian selatan dan India bagian selatan dari Manado.

Selama ini, Lion sudah memiliki hub Jakarta, Bali dan Makassar.

Lion hingga saat ini telah melayani hampir seluruh kota besar di Indonesia dan sejumlah rute regional dengan tenaga pilot 600-700 dan 20 persen di antaranya adalah pilot asing.

Sementara itu, Wakil Presiden Penjualan Asia Pasifik dan India, Boeing Company, Dinesh Keskar, mengatakan secara fisik, pesawat B737-MAX tidak berbeda dengan B737-900ER.

"Yang berbeda hanya mesinnya yang lebih efisien dan hemat bahan bakar 10-12 persen dibanding B737-900ER, " katanya.

Untuk kawasan Asia, lanjutnya, Lion Air adalah pembeli pertama untuk pesawat dengan daya jelajah bisa enam jam perjalanan itu.

(E008/A023)

Editor: Suryanto

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar