Jakarta (ANTARA News) - Bank Indonesia meyakini inflasi dalam dua tahun ke depan akan rendah dan berada dalam kisaran 3,5 - 5,5 persen hingga 2013 mendatang.

"Perkiraan BI pada 2012 dan 2013 inflasi tetap rendah, karena ada kecenderungan harga komoditas dunia di luar minyak akan turun sekitar 12,48 persen pada 2012," kata Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo, di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, inflasi hingga akhir 2012 tanpa ada pengaruh kebijakan pemerintah (administered price) akan berada di posisi 3,96 persen.

Sementara, jika Pemerintah jadi menaikkan tarif dasar listrik (TDL) 10 persen, inflasi akan bertambah 0,2 persen. Sedangkan jika harga HPP beras dinaikkan akan menambah inflasi 0,1 persen. Jika pemerintah jadi mengeluarkan kebijakan pembatasan BBM, lanjut Warjiyo akan menambah inflasi 0,7 persen.

"Sementara jika yang diambil kebijakan menaikkan BBM Rp500 dampak inflasi langsungnya sekitar 0,3 persen," katanya.

Semua tambahan inflasi dari administered price itu jika jadi dilansir pemerintah belum akan keluar dari kisaran inflasi yang ditargetkan BI 3,5 - 5,5 persen pada 2012 - 2013.

Dengan perkiraan inflasi rendah itulah, BI berani memutuskan untuk kembali menurunkan BI rate pekan lalu menjadi 5,75 persen dengan pertimbangan bisa membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan akan melambat karena pengaruh krisis keuangan Eropa.

"Pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan mengarah pada batas bawah 6,3 - 6,7 persen. Jika tidak ada langkah stimulus fiskal dan moneter pertumbuhan ekonomi 2012 diperkirakan 6,3 persen," katanya.

Untuk itulah, BI mengharapkan penurunan BI rate diikuti penurunan suku bunga kredit perbankan yang akan memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional. (*)

Editor: Ade Marboen

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar