Salatiga (ANTARA News) - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono mengatakan, jangan buru-buru menyalahkan pers jika menyuarakan keresahan-keresahan, sebab pers berperan menyuarakan apa yang dirasakan masyarakat.

"Jangan buru-buru dibaca pers onar, dan sebagainya, namun jangan-jangan memang masyarakat sedang resah," katanya, di sela seminar bertema "Peran Media dalam Mengawal Revitalisasi Moral Kehidupan" di Salatiga, Rabu.

Hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut digelar untuk memeringati Hari Pers Nasional (HPN) 2012 itu Staf Ahli Menkominfo Dr Henry Subiakto, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Prof John A. Titaley, dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto.

Menurut Margiono, pers tidak bisa berdiri sendiri atau menyuarakan di luar apa yang dirasakan masyarakat, karena pers justru akan bernyanyi sendiri jika menyuarakan di luar apa yang dirasakan rakyat.

Meski menyuarakan apa yang dirasakan masyarakat, kata dia, pers tidak menjadi lokomotif atau berada di depan dalam gerakan perjuangan bangsa, sebab yang menjadi penggerak adalah masyarakat sendiri, termasuk kaum intelektual.

Ia menjelaskan, pers akan berada di bawah dan menjadi penguat perjuangan yang dilakukan rakyat dan menjadi suara atau gaung yang menjembatani antarkomponen bangsa, sehingga pers tidak perlu tunduk pada keinginan yang dikehendaki segelintir orang.

"Sesuai filosofinya, pers adalah penyambung atau penghubung dua pihak yang berjarak, seperti pemerintah dan rakyat. Kalau DPR dan rakyat sudah tidak berjarak, pemerintah sudah dekat dengan rakyat, tidak perlu media atau pers lagi. Justru ini pentingnya media," katanya.

Margiono mengungkapkan, sejauh ini pers menjadi lembaga yang mendapatkan kepercayaan paling besar dibanding lembaga-lembaga lain, terutama dipercaya untuk menyampaikan aspirasi dan menjadi sumber informasi masyarakat.

Ia mengakui, sekarang ini ada beberapa pihak yang menganggap pers kebablasan, tidak mematuhi kode etik, dan sebagainya, sehingga media harus menyikapinya dengan terus meningkatkan kompetensi dan kualitas agar kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat tidak turun.

"Yang jelas, pers penting untuk menjadi penyambung pihak yang berjarak. Selama ada pihak yang berjarak, misalnya pemerintah dengan rakyat, DPR dengan rakyat, dan sebagainya maka di situlah peran penting pers untuk menjadi penyambung," kata Margiono.

Sementara itu, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto mengatakan peran media sangat kentara di era kebebasan dan demokrasi, namun jangan melupakan kepentingan bangsa dan negara demi mengejar kepentingan bisnis semata.

"Media masih ada yang menganggap berita buruk itu merupakan berita baik, namun sebaliknya dengan berita baik. Memang tidak bisa dipungkiri sebagai sebuah industri yang memiliki kepentingan bisnis, namun jangan lupakan kepentingan bangsa dan negara," katanya.
(*)

Editor: AA Ariwibowo

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar