26 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri di Pakistan
Jumat, 17 Februari 2012 23:52 WIB | 2069 Views
Ilustrasi
Berita Terkait
Peshawar, Pakistan (ANTARA News) - Seorang pengendara sepeda-motor meledakkan bom bunuh diri di sebuah pasar di daerah berpenduduk mayoritas Syiah di Pakistan baratlaut, Jumat, menewaskan sedikitnya 26 orang, dalam serangan paling mematikan dalam waktu sebulan.
Bom itu meledak di dekat sebuah masjid ketika sholat Jumat sedang berlangsung di Parachinar, daerah yang dilanda kekerasan sektarian antara mayoritas Sunni dan minoritas Syiah di kawasan suku Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan, lapor AFP.
Parachinar adalah kota utama di Kurram, bagian dari kawasan suku
semi-otonomi dimana pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan serangan
terhadap Taliban dan gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaida, dan
wilayah itu disebut Washington sebagai sarang teror internasional
terbesar di dunia.
Pemboman itu merupakan serangan paling mematikan di Pakistan
sejak ledakan bom yang dikendalikan dari jarak jauh menewaskan
sedikitnya 35 orang di daerah suku Khyber pada 10 Januari.
"Sedikitnya 26 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri itu,"
kata kepala daerah Sahibzada Mohammad Anees kepada AFP. "Seorang
penyerang bersepeda-motor meledakkan dirinya di sebuah pasar yang
ramai."
Sekitar 54 orang cedera dalam pemboman itu, dan 37 orang masih
dirawat di rumah sakit, beberapa dari mereka dalam kondisi kritis, kata
pemimpin Kurram, Shahab Ali Shah, kepada AFP.
Sebuah kelompok sempalan Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.
"Kami mengirim penyerang bom bunuh diri setelah serangan-serangan
terhadap muslim Sunni oleh suku Syiah di daerah itu," kata Fazal Saeed
kepada AFP, yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin kelompok
Tehreek-e-Taliban Islami.
Pakistan dilanda serangan-serangan bom bunuh diri dan penembakan
yang menewaskan lebih dari 4.800 orang sejak pasukan pemerintah menyerbu
sebuah masjid yang menjadi tempat persembunyian militan di Islamabad
pada Juli 2007.
Kekerasan sektarian meningkat sejak gerilyawan Sunni memperdalam
hubungan dengan militan Al-Qaida dan Taliban setelah Pakistan bergabung
dalam operasi pimpinan AS untuk menumpas militansi setelah
serangan-serangan 11 September 2001 di AS.
Pakistan juga mendapat tekanan internasional yang meningkat agar
menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah
meningkatnya serangan-serangan lintas-batas gerilyawan terhadap pasukan
internasional di Afghanistan.
Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak
terhadap para komandan Taliban dan Al-Qaida di kawasan suku baratlaut,
dimana militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar
kendali langsung pemerintah Pakistan.
Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan
kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan
kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di
Afghanistan.
Islamabad mendesak AS mengakhiri serangan-serangan pesawat tak
berawak, sementara Washington menuntut Pakistan mengambil tindakan
menentukan untuk menumpas jaringan teror.
Sentimen anti-AS tinggi di Pakistan, dan perang terhadap
militansi yang dilakukan AS tidak populer di Pakistan karena persepsi
bahwa banyak warga sipil tewas akibat serangan pesawat tak berawak yang
ditujukan pada militan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan dan
penduduk merasa bahwa itu merupakan pelanggaran atas kedaulatan
Pakistan.
Pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan puluhan serangan di
kawasan suku Pakistan sejak pasukan komando AS membunuh pemimpin
Al-Qaida Osama bin Laden dalam operasi rahasia di kota Abbottabad,
Pakistan, pada 2 Mei 2011. (M014) Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com