Peshawar, Pakistan (ANTARA News) - Seorang pengendara sepeda-motor meledakkan bom bunuh diri di sebuah pasar di daerah berpenduduk mayoritas Syiah di Pakistan baratlaut, Jumat, menewaskan sedikitnya 26 orang, dalam serangan paling mematikan dalam waktu sebulan.

Bom itu meledak di dekat sebuah masjid ketika sholat Jumat sedang berlangsung di Parachinar, daerah yang dilanda kekerasan sektarian antara mayoritas Sunni dan minoritas Syiah di kawasan suku Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan, lapor AFP.

Parachinar adalah kota utama di Kurram, bagian dari kawasan suku semi-otonomi dimana pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan serangan terhadap Taliban dan gerilyawan yang terkait dengan Al-Qaida, dan wilayah itu disebut Washington sebagai sarang teror internasional terbesar di dunia.

Pemboman itu merupakan serangan paling mematikan di Pakistan sejak ledakan bom yang dikendalikan dari jarak jauh menewaskan sedikitnya 35 orang di daerah suku Khyber pada 10 Januari.

"Sedikitnya 26 orang tewas dalam serangan bom bunuh diri itu," kata kepala daerah Sahibzada Mohammad Anees kepada AFP. "Seorang penyerang bersepeda-motor meledakkan dirinya di sebuah pasar yang ramai."

Sekitar 54 orang cedera dalam pemboman itu, dan 37 orang masih dirawat di rumah sakit, beberapa dari mereka dalam kondisi kritis, kata pemimpin Kurram, Shahab Ali Shah, kepada AFP.

Sebuah kelompok sempalan Taliban mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

"Kami mengirim penyerang bom bunuh diri setelah serangan-serangan terhadap muslim Sunni oleh suku Syiah di daerah itu," kata Fazal Saeed kepada AFP, yang mengklaim dirinya sebagai pemimpin kelompok Tehreek-e-Taliban Islami.

Pakistan dilanda serangan-serangan bom bunuh diri dan penembakan yang menewaskan lebih dari 4.800 orang sejak pasukan pemerintah menyerbu sebuah masjid yang menjadi tempat persembunyian militan di Islamabad pada Juli 2007.

Kekerasan sektarian meningkat sejak gerilyawan Sunni memperdalam hubungan dengan militan Al-Qaida dan Taliban setelah Pakistan bergabung dalam operasi pimpinan AS untuk menumpas militansi setelah serangan-serangan 11 September 2001 di AS.

Pakistan juga mendapat tekanan internasional yang meningkat agar menumpas kelompok militan di wilayah baratlaut dan zona suku di tengah meningkatnya serangan-serangan lintas-batas gerilyawan terhadap pasukan internasional di Afghanistan.

Para pejabat AS mengobarkan perang dengan pesawat tak berawak terhadap para komandan Taliban dan Al-Qaida di kawasan suku baratlaut, dimana militan bersembunyi di daerah pegunungan yang berada di luar kendali langsung pemerintah Pakistan.

Pasukan Amerika menyatakan, daerah perbatasan itu digunakan kelompok militan sebagai tempat untuk melakukan pelatihan, penyusunan kembali kekuatan dan peluncuran serangan terhadap pasukan koalisi di Afghanistan.

Islamabad mendesak AS mengakhiri serangan-serangan pesawat tak berawak, sementara Washington menuntut Pakistan mengambil tindakan menentukan untuk menumpas jaringan teror.

Sentimen anti-AS tinggi di Pakistan, dan perang terhadap militansi yang dilakukan AS tidak populer di Pakistan karena persepsi bahwa banyak warga sipil tewas akibat serangan pesawat tak berawak yang ditujukan pada militan di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan dan penduduk merasa bahwa itu merupakan pelanggaran atas kedaulatan Pakistan.

Pesawat-pesawat tak berawak AS melancarkan puluhan serangan di kawasan suku Pakistan sejak pasukan komando AS membunuh pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dalam operasi rahasia di kota Abbottabad, Pakistan, pada 2 Mei 2011. (M014)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar