Mogadishu (ANTARA News) - Sebuah bom mobil meledak di dalam kompleks kantor polisi di Mogadishu, ibu kota Somalia, Jumat, mencederai sedikitnya satu polisi, kata sejumlah pejabat.

"Sebuah mobil penuh bom, yang disita pasukan keamanan pagi ini, meledak -- seorang polisi cedera," kata Abdulahi Ahmed, seorang polisi Somalia. "Kami masih menyelidiki insiden itu."

Ledakan itu terjadi di halaman kantor penyelidikan kriminal kepolisian Somalia, dekat bundaran K4 pusat yang ramai, lapor AFP.

Beberapa saksi mengatakan, mobil itu meledak ketika diparkir di kantor itu, menghancurkan dinding pembatas.

"Mobil itu meledak di tempat parkir, ledakannya sangat besar, dan asap serta api membubung ke angkasa," kata Farah Adan, seorang saksi.

Belum jelas apa penyebab ledakan itu, namun sejumlah aparat keamanan belum lama ini tewas setelah bom yang diyakini telah dijinakkan meledak oleh detonator kedua yang tersembunyi.

Belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan Jumat itu, yang terakhir dari rangkaian ledakan yang mencakup bom-bom pinggir jalan dan granat yang mengguncang Mogadishu dalam beberapa bulan ini.

Kota itu mengalami peningkatan serangan sejak gerilyawan Al-Shabaab meninggalkan posisi mereka pada Agustus dan beralih taktik ke perang gerilya untuk melawan pasukan pemerintah dukungan Barat dan pasukan Uni Afrika.

Pekan lalu, serangan bom mobil bunuh diri menewaskan sedikitnya 15 orang di sebuah kafe dekat istana presiden di Mogadishu, pemboman paling mematikan di kota itu sejak Oktober, ketika sebuah truk berisi bom meledak, menewaskan sedikitnya 82 orang.

Somalia tahun lalu dilanda kelaparan parah akibat kekeringan terburuk yang terjadi negara itu, dan PBB telah mengumumkan Mogadishu dan empat wilayah Somalia selatan sebagai zona kelaparan serta memperingatkan bahwa kelaparan bisa meluas ke seluruh penjuru negara itu.

Kondisi itu diperumit oleh bentrokan-bentrokan yang terus terjadi antara pasukan Somalia serta Uni Afrika sekutunya dan gerilyawan Al-Shabaab.

Bentrokan-bentrokan itu berlangsung ketika badan-badan bantuan internasional berusaha mencari cara untuk menyerahkan bantuan makanan kepada penduduk yang tinggal di kawasan yang dilanda kelaparan, khususnya daerah-daerah Somalia selatan yang dikuasai kelompok Al-Shabaab yang terkait dengan Al-Qaida.

Badan-badan bantuan menarik diri dari Somalia selatan pada awal 2010 setelah ancaman terhadap staf mereka dan aturan semakin keras yang diberlakukan terhadap aktivitas mereka oleh Al-Shabaab, yang dimasukkan ke dalam daftar kelompok teror oleh Washington.

Militan pada Juli 2011 mengatakan, kelompok bantuan asing bisa kembali lagi ke wilayah itu, namun seorang juru bicara Al-Shabaab mengatakan kemudian bahwa larangan operasi terhadap mereka masih tetap diberlakukan.

Al-Shabaab yang bersekutu dengan Al-Qaida mengobarkan perang selama empat tahun ini dalam upaya menumbangkan pemerintah sementara Somalia dukungan PBB yang hanya menguasai sejumlah wilayah di Mogadishu.

Nama Al-Shabaab mencuat setelah serangan mematikan di Kampala pada Juli 2010.

Para pejabat AS mengatakan, kelompok Al-Shabaab bisa menimbulkan ancaman global yang lebih luas.

Al-Shabaab mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Kampala, ibukota Uganda, pada 11 Juli yang menewaskan 79 orang.

Pemboman itu merupakan serangan terburuk di Afrika timur sejak pemboman 1998 terhadap kedutaan besar AS di Nairobi dan Dar es Salaam yang diklaim oleh Al-Qaida.

Washington menyebut Al-Shabaab sebagai sebuah organisasi teroris yang memiliki hubungan dekat dengan jaringan Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Milisi garis Al-Shabaab dan sekutunya berusaha menggulingkan pemerintah Presiden Sharif Ahmed ketika mereka meluncurkan ofensif mematikan pada Mei dua tahun lalu.

Mereka menghadapi perlawanan sengit dari kelompok milisi pro-pemerintah yang menentang pemberlakuan hukum Islam yang ketat di wilayah Somalia tengah dan selatan yang mereka kuasai.

Al-Shabaab dan kelompok gerilya garis keras lain ingin memberlakukan hukum sharia yang ketat di Somalia dan juga telah melakukan eksekusi-eksekusi, pelemparan batu dan amputasi di wilayah selatan dan tengah.

Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain perompakan, penculikan dan kekerasan mematikan juga melanda negara tersebut. (M014)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com

Komentar Pembaca
Kirim Komentar