Pasukan Yaman tangkap 10 militan setelah pembunuhan perwira militer
Sabtu, 18 Februari 2012 02:00 WIB | 2009 Views
Ilustrasi (FOTO ANTARA/REUTERS/Khaled Abdullah/djo/11)
Berita Terkait
Sanaa (ANTARA News) - Pasukan keamanan Yaman menangkap 10 militan yang terkait dengan Al-Qaida, Jumat, kata satu sumber keamanan, setelah serangan di sebuah kota yang menggarisbawahi tantangan keamanan dalam pemilihan presiden pekan depan.
Dalam serangan Rabu, gerilyawan menembak mati seorang perwira militer dan seorang pejabat pemilihan umum di kota Baydah, sekitar 130 kilometer sebelah tenggara Sanaa, ibu kota Yaman, lapor Reuters.
Gerilyawan menembaki mobil yang membawa Khaled Waqaa, pemimpin sebuah brigade pasukan elit Garda Republik, menewaskan perwira itu dan ketua komisi pemilu Baydah, Hussein al-Babli, putranya, dan dua prajurit. Sepuluh orang lagi cedera dalam serangan itu.
Rakyat Yaman akan memberikan suara mereka pada 21 Februari untuk memilih pengganti Presiden Ali Abdullah Saleh, yang kini berada di AS untuk perawatan medis, di tengah kekhawatiran bahwa kekerasan akan mengurangi jumlah pemilih yang hadir.
Kelompok militan Ansar al-Sharia mengklaim bertanggung jawab atas serangan Rabu namun mengatakan, mereka hanya menyerang komandan militer itu sebagai pembalasan atas kegagalan pemerintah melaksanakan bagian perjanjian mereka setelah kelompok gerilya itu meninggalkan sebuah kota yang mereka kuasai.
Militan setuju bulan lalu untuk menarik diri dari Radda, sekitar 170 kilometer sebelah tenggara Sanaa, dengan imbalan pembentukan sebuah dewan yang akan memerintah kota itu dengan penerapan hukum Islam dan pembebasan sejumlah rekan mereka yang ditahan.
Juru bicara militan mengatakan, pemerintah bukannya membentuk dewan itu malah mengirim pasukan Garda Republik memasuki kota tersebut.
Sejak protes anti-pemerintah meletus di Yaman pada akhir Januari 2011, militan memanfaatkan melemahnya kekuasaan pusat dengan membangun pangkalan di sejumlah provinsi selatan.
Demonstrasi di Yaman yang menuntut pengunduran diri Saleh telah menewaskan ratusan orang.
Dengan jumlah kematian yang terus meningkat, Saleh, sekutu lama Washington dalam perang melawan Al-Qaida, kehilangan dukungan AS.
Pemerintah AS mengambil bagian dalam upaya-upaya untuk merundingkan pengunduran diri Saleh dan penyerahan kekuasaan sementara, menurut sebuah laporan di New York Times.
Para pejabat AS menganggap posisi Saleh tidak bisa lagi dipertahankan karena protes yang meluas dan ia harus meninggalkan kursi presiden, kata laporan itu.
Meski demikian, Washington memperingatkan bahwa jatuhnya Saleh selaku sekutu utama AS dalam perang melawan Al-Qaida akan menimbulkan "ancaman nyata" bagi AS.
Yaman adalah negara leluhur almarhum pemimpin Al-Qaida Osama bin Laden dan hingga kini masih menghadapi kekerasan separatis di wilayah utara dan selatan.
Yaman Utara dan Yaman Selatan secara resmi bersatu membentuk Republik Yaman pada 1990 namun banyak pihak di wilayah selatan, yang menjadi tempat sebagian besar minyak Yaman, mengatakan bahwa orang utara menggunakan penyatuan itu untuk menguasai sumber-sumber alam dan mendiskriminasi mereka.
Negara-negara Barat, khususnya AS, semakin khawatir atas ancaman ekstrimisme di Yaman, termasuk kegiatan Al-Qaida di Semenanjung Arab (AQAP). (M014) Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2012
Ikuti berita terkini di handphone anda di m.antaranews.com